Taman Nasional Tesso Nilo

TNTN, Juni 2026 — Suara gemerisik daun kering beradu dengan langkah sepatu bot yang berat. Di dalam benteng hijau yang kian menyusut, petugas TNTN perlahan membelah keheningan bawah kanopi hutan. Sang Polhut Killer Silaban memimpin di depan, matanya tajam menyisir kerapatan vegetasi, sementara parang di tangannya sesekali mengayun bebas, menebas rintangan pohon tumbang yang memblokade jalan.

Mereka adalah punggawa Smart Patrol dari SPTN Wilayah I Lubuk Kembang Bunga. Sejak Selasa (16/6/2026) hingga Minggu (21/6/2026), tim yang beranggotakan Killer Silaban, Martinho Pinto, Eko Supriadi, Wolfy Regino, Ridho Dwi Hendrawan, Mizi, dan seorang mahasiswa magang ini memilih mengisolasi diri dari kenyamanan kota. Misi mereka satu: memastikan detak jantung Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN) belum berhenti.

Bagi tim ini, patroli darat sejauh berkilo-kilometer bukan sekadar berjalan kaki menghabiskan waktu. Ini adalah negosiasi fisik yang melelahkan. Di sepanjang jalur patroli menuju hutan tersisa, pohon-pohon tumbang melintang secara acak akibat faktor alam. Menggunakan alat seadanya, parang, cangkul, dan tembilang, jalur evakuasi dan patroli tersebut mereka bersihkan helai demi helai dengan peluh yang bercucuran.

Namun, di balik kelelahan fisik, rimba Tesso Nilo selalu punya cara tersendiri untuk mengupah para penjaganya. Di tengah kesunyian hari Rabu, sayup-sayup terdengar suara kepakan sayap yang berat dan pekikan khas burung rangkong di langit-langit hutan. Di hari lain, giliran tapak kaki rusa dan kijang yang tercetak rapi di atas tanah basah. Setiap perjumpaan satwa eksotis ini segera direkam ke dalam aplikasi Smart Patrol, sebuah manifestasi digital bahwa kehidupan liar masih menolak punah di sini.

Perjuangan mencapai puncaknya menjelang akhir pekan saat tim bergerak ke arah Kampung RHL. Disini tim menemukan “borok” di tubuh taman nasional: hamparan pohon sawit ilegal berusia tiga tahun yang sengaja ditinggalkan penanamnya. Tanpa menunda waktu, pemusnahan tanaman monokultur tersebut langsung dilakukan. Sebagai gantinya, dengan tangan yang dipenuhi tanah, tim merestorasi area tersebut dengan menanam kembali 200 bibit pohon mahoni secara bertahap hingga hari Minggu.

Pendekatan humanis juga menjadi senjata andalan para petugas. Ketika berpapasan dengan dua pekerja yang tengah membongkar sebuah pondok di dalam kawasan, tim tidak langsung menghakimi secara represif. Dialog persuasif dikedepankan. Berdasarkan keterangan, pondok tersebut dibongkar mandiri karena pemiliknya ingin pindah keluar kawasan. Petugas pun memberikan edukasi hukum dengan tegas namun santun, memastikan bahwa tiang-tiang bangunan baru tidak akan pernah tegak lagi di atas tanah suci TNTN.

Minggu sore, langkah kaki tim akhirnya kembali menapak di kantor SPTN I LKB. Tubuh mereka barangkali lelah, dan seragam lapangan mereka dipenuhi noda lumpur serta getah hutan yang pekat. Namun, laporan akhir mereka mencatat hasil yang melegakan: tidak ditemukan aktivitas ilegal baru di kawasan hutan tersisa selama enam hari penuh peluh tersebut. Sebuah akhir pekan yang melelahkan, namun berharga demi memberi waktu bernapas lebih panjang bagi paru-paru Sumatra.