
TNTN, September 2025 – Pagi baru saja merekah di Tesso Nilo. Kabut tipis menggantung di atas dedaunan, sementara embun masih menempel di rerumputan. Dari kejauhan, suara dedaunan yang bergeser terdengar pelan itu bukan angin, melainkan langkah kaki seekor gajah betina bernama Lisa dan anaknya Tari. Di sampingnya, berjalan seorang pria sederhana dengan senyum tenang. Dialah Tengku Asril, seorang mahout, sahabat sekaligus penjaga Lisa dan Tari.
“Kalau pagi, biasanya Lisa dan Tari lebih manja. Dia minta dielus dulu sebelum makan,” ucap Asril sambil menepuk pelan belalai sahabatnya itu. Lisa merespon dengan suara lirih khas gajah, seolah mengiyakan ucapan Asril.
Ritual Cinta Setiap Pagi
Bagi Asril dan mahout lainnya, pagi bukan hanya waktu memulai tugas, melainkan waktu memperkuat ikatan dengan gajah. Mereka menyiapkan makanan: batang pisang, dedaunan, hingga buah-buahan. Setelah itu, gajah dimandikan di sungai kecil, tubuh mereka digosok dengan tangannya sendiri.
“Kalau gajah bahagia, kita juga bahagia. Mereka bisa merasakan kalau kita tulus,” kata Jungjung, Manager para mahout di Elephant Flying Squad TN Tesso Nilo.
Saat air sungai menyentuh tubuh gajah, terlihat ekspresi damai yang sulit dijelaskan. Gajah berdiam, menutup mata, menikmati sentuhan tangan manusia yang mereka percaya. Di momen-momen sederhana inilah, cinta lintas spesies itu nyata: tidak ada bahasa, tidak ada kontrak, hanya rasa percaya.
Langkah Bersama ke Hutan
Perjalanan mengangon gajah tidak selalu mudah. Jalan becek, nyamuk hutan, dan panas terik adalah teman akrab. Namun, bagi para mahout, semua itu bukan beban. “Yang penting gajah aman, hutan juga aman. Itu sudah cukup,” ujar Erwin Daulay, sambil mengingat hari-hari penuh risiko saat harus menjaga di teman besar.
Dalam setiap langkah, terlihat keakraban yang sulit dipisahkan. Gajah sesekali menoleh ke arah mahoutnya, memastikan mereka tetap beriringan. Mahout pun merespon dengan panggilan lembut, sebuah komunikasi tanpa kata yang hanya mereka berdua pahami.
Bahagia dan Luka yang Dibagi Bersama
Hidup bersama gajah juga berarti berbagi emosi, suka dan duka. Asril masih ingat bagaimana harunya saat seekor anak gajah bernama Tari lahir dari induknya, Lisa. “Rasanya seperti punya anak sendiri. Kami semua terharu waktu itu,” kenangnya.
Namun, ada pula luka yang dalam, saat ada kematian dari beberapa gajah. Erwin dan teman mahout lainnya, tidak kuasa menahan air mata. “Kehilangan gajah itu seperti kehilangan sahabat. Rasanya kosong,” ucapnya lirih.
Kebahagiaan dan kesedihan itu mereka alami bersama, karena bagi mahout, gajah bukan sekadar satwa konservasi. Mereka adalah keluarga.
Pesan dari Hutan Tesso Nilo
Senja turun di Tesso Nilo. Cahaya oranye menyinari barisan gajah yang kembali ke camp. Mahout melepas pelana, memberi makan terakhir sebelum malam. Gajah-gajah itu berdiri tenang, sesekali melilitkan belalai ke tubuh sahabat manusianya, gestur kecil yang penuh makna.
“Buat saya, hidup bersama gajah adalah anugerah. Kita saling menjaga. Saya percaya, selama kita sayang mereka, mereka juga akan sayang kita,” kata Junjung sambil menatap Lisa yang berdiri di sampingnya.
Dari Tesso Nilo, kita belajar satu hal penting: bahwa persahabatan sejati tidak mengenal batas spesies. Manusia dan gajah, dua makhluk berbeda, bisa menyatu dalam kasih dan kepercayaan.
Elephant Flying Squad bukan sekadar tim. Mereka adalah simbol cinta, dedikasi, dan harapan. Mahout dan gajah berjalan beriringan bukan hanya demi hutan, tetapi demi masa depan bersama.
Di setiap langkah raksasa hutan yang ditemani manusia sederhana, kita mendengar pesan yang sama: jangan pernah lelah mencintai alam, karena alam selalu punya cara untuk membalas cinta itu.