
TNTN, 2 November 2025 — Di tengah sunyi hutan Tesso Nilo, tiga anggota tim patroli satwa menelusuri jejak samar seekor gajah betina yang dikabarkan sakit. Laporan warga menyebut, hewan besar itu kesulitan buang kotoran karena ada sesuatu yang menggantung di bagian anusnya. Bagi sebagian orang, itu mungkin terdengar sepele. Namun bagi para penjaga hutan, setiap tanda penderitaan satwa liar adalah panggilan tugas.
Selama tiga hari, sejak 31 Oktober hingga 2 November 2025, Reno Karno, Syusra Abadi, dan Sutan dari tim patroli satwa Tesso Nilo menyusuri area yang disinyalir menjadi lokasi gajah sakit tersebut berada. Dengan dua sepeda motor dan sebilah parang, mereka menembus lintasan semak dan tanah basah, mengikuti bekas tapak kaki dan sisa pakan yang ditinggalkan sang gajah.

“Di lokasi kami tidak menjumpai gajahnya, hanya bekas jejak dan sisa makanannya,” ujar salah satu anggota tim. Dari penelusuran dan keterangan warga bernama Sitepu, diketahui gajah betina itu sempat terlihat dalam kondisi lemah sekitar seminggu lalu. Warga sempat mencoba menolong, tapi tak berani mendekat. Beberapa hari kemudian, benda yang diduga kulit kayu penyebab sakitnya terlepas, dan sang gajah pun berlari kembali ke arah sungai Nilo.
Meski tak menemukan langsung satwa tersebut, tim menganggap misi itu belum berakhir. Mereka terus berkoordinasi dengan masyarakat sekitar lintasan gajah dan memastikan pengawasan tetap dilakukan agar tidak terjadi konflik antara manusia dan satwa dilindungi.
Bagi tim kecil itu, lelah bukan alasan berhenti. Di Tesso Nilo, perjuangan menjaga kehidupan liar seringkali tak diwarnai sorotan kamera, hanya langkah kaki di tanah hutan, di antara dedaunan basah dan sunyi yang menjadi saksi dedikasi mereka.