
TNTN, November 2025 – Hutan Tesso Nilo kembali disusuri, bukan sekadar patroli rutin, tapi wujud nyata cinta pada alam dan satwa yang hidup di dalamnya. Langkah para penjaga Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN) terus bergema. Selama lima hari, 1–5 November 2025, tim patroli gabungan dari Balai TNTN, Manggala Agni, Gakkum, dan masyarakat Lubuk Kembang Bunga (LKB) menapaki hutan-hutan tersisa di SPTN Wilayah I LKB. Tujuan mereka sederhana namun berat: memastikan hutan yang masih hidup tetap terlindungi.
Di hari pertama, tim sempat mendampingi Tim PEBAB dari Jakarta ke lokasi pemantauan ekosistem di Blok Gambangan. Di tengah perjalanan, mereka mendapati warga bergotong royong memperbaiki jalan di dalam kawasan. Semangat itu menjadi pengingat, bahwa penyelamatan hutan bukan hanya urusan aparat, tapi juga tentang keterlibatan masyarakat yang hidup di sekitarnya.

Hari berikutnya, kabar kebakaran di Grid E19 membuat langkah mereka lebih cepat. Di lokasi, asap masih mengepul dan api kecil menyala di tanah kering. Tanpa sumber air, pemadaman dilakukan secara manual—dengan semak dan ranting basah. Di antara abu, tim menemukan jejak kehidupan: kotoran gajah dan tapak rusa. Alam masih bernafas, meski di bawah ancaman.
Perjalanan berlanjut ke pos jaga tua di tengah hutan alam. Atapnya roboh tertimpa pohon, tapi pos itu menjadi tempat berteduh sejenak dari lelah. Di sekitar Grid H21 dan H22, tim menemukan tanda-tanda gajah liar, cakaran beruang, dan jejak tapir. Tak ada suara gergaji mesin, tak ada aktivitas ilegal—hutan di sana masih utuh, masih bernyanyi dengan suara alam.
Di hari-hari terakhir, mereka menyusuri area di belakang klinik gajah, menemukan kulim dan meranti raksasa yang menjulang diam. Lokasi tumbangan lama kini telah berubah menjadi semak belukar—bukti kecil bahwa alam sedang berusaha memulihkan dirinya sendiri.
Patroli ini berakhir dengan catatan penting: hutan alam tersisa di Tesso Nilo masih menyimpan harapan, asalkan dijaga terus. “Masih banyak pohon besar dan tanda keberadaan satwa yang harus dilindungi,” tulis tim dalam laporannya.
Bagi mereka, menjaga hutan bukan sekadar tugas, melainkan panggilan hati. Di setiap langkah di tanah lembab, di setiap keringat yang jatuh di antara pepohonan, mereka menjaga kehidupan—bukan hanya bagi gajah dan tapir, tapi bagi masa depan seluruh bumi Riau.