
TNTN, 8 November 2025 – Di tengah terik yang menggantung sejak pagi, delapan personel tim Brigdalkarhut SPTN Wilayah I LKB bersama enam personil polisi, satu PEH, satu penyuluh, dan warga setempat kembali menginjakkan kaki di hamparan alang-alang dan belukar yang terbakar di areal Kenayang, Desa Lubuk Kembang Bunga, wilayah yang dalam beberapa waktu terakhir terus berdenyut oleh bara.
Pukul 08.00 WIB, dua personel Brigdalkar tiba lebih dulu untuk melakukan ground check. Laporan visual memperlihatkan asap yang menebal dan lidah api yang bergerak cepat mengikuti embusan angin. Tim gabungan segera menyusul dengan membawa kendaraan roda dua dan roda empat, satu mesin maxtri, mini strake, jet shutter, hingga parang, peralatan yang menjadi andalan dalam kondisi serba terbatas.
Setibanya di lokasi, strategi pemadaman langsung disiapkan. Air dilansir menggunakan mobil, sementara tim lain memukul titik api dengan mesin mini strake. Namun, angin yang kencang membuat situasi berubah cepat: api merambat, melompat dari satu rumpun semak ke semak lain, menyambar tumbangan kayu dan pohon akasia yang kering.

“Kita terus dorong dari sisi timur. Jangan kasih ruang angin masuk!” teriak salah satu anggota di tengah asap pekat, menggambarkan tekanan lapangan yang terasa makin berat.
Keterbatasan sumber air menjadi kendala terbesar. Lokasi air terdekat jauh, sementara bahan bakar alami, alang-alang dan semak belukar, sangat kering dan melimpah. Api pun semakin liar. Meski begitu, tim tak surut. Mereka tetap mengejar barisan api yang terus meluas, disiplin menjaga jarak aman, dan bekerja bergantian memompa air dengan tekanan maksimal.
Hingga malam turun, bara belum juga sepenuhnya jinak. Kabut asap bercampur gelap membuat pandangan terbatas dan risiko meningkat. Setelah mempertimbangkan keselamatan, komandan lapangan memutuskan operasi dihentikan sementara. Tim ditarik mundur ke kantor seksi, dengan rencana melanjutkan pemadaman esok pagi.
Kebakaran yang diduga berasal dari aktivitas pembakaran ini menghabiskan vegetasi padat: alang-alang, semak belukar, tumbangan kayu, dan akasia, semua menjadi bahan bakar alami yang mempercepat perluasan api.
Meski malam memaksa mereka berhenti, semangat para petugas tetap menyala. Besok pagi mereka akan kembali ke lokasi, membawa harapan baru untuk mengejar sisa api yang masih membara, demi hutan, demi desa, dan demi keselamatan banyak pihak.