
TNTN, Januari 2026 – Suara mesin gergaji memecah sunyi hutan di Resort Air Sawan, Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN). Di tengah patroli panjang bersama masyarakat, tim SPTN Wilayah I Lubuk Kembang Bunga (LKB) menghentikan langkah. Jejak kendaraan roda empat yang mereka ikuti sejak siang membawa petugas pada satu temuan: aktivitas illegal logging di tepian Sungai Air Sawan.
Patroli yang berlangsung selama lima hari, 21–25 Januari 2026, melibatkan sembilan personel gabungan bersama TNI Pos 2 Kenayang. Mereka menyisir kawasan menggunakan enam sepeda motor, peta kerja, dan peralatan lapangan sederhana. Medan berat, cuaca, serta ancaman konflik lapangan menjadi bagian dari keseharian.
Pada hari pertama, tim bergerak dari Kenayang menuju Bagan Meranti hingga belakang kantor Resort Air Sawan. Di lapangan, petugas menemukan aktivitas penyisipan sawit oleh seorang warga. Tanaman yang baru ditanam langsung dicabut, disertai peringatan keras agar tidak ada perluasan kebun di dalam kawasan konservasi.
Di lokasi bekas kebakaran Oktober 2025, tanda-tanda pemulihan mulai terlihat. Ilalang dan rumput tumbuh kembali, sementara jejak rusa, kijang, kotoran gajah, hingga kubangan dan tempat tidur satwa menunjukkan hutan mulai dihuni lagi. Namun bagi petugas, tanda kehidupan itu juga berarti kewaspadaan: kawasan harus terus dijaga dari perambahan baru.

Menjelang sore, patroli berubah tegang. Jejak mobil masuk kawasan mengarah pada suara chainsaw. Setelah berdiskusi cepat, tim mendekat dan mendapati aktivitas pembalakan liar. Seorang pelaku berhasil diamankan bersama keluarga yang berada di lokasi. Barang bukti berupa chainsaw, perlengkapan kerja, hasil olahan kayu, serta kendaraan roda empat turut disita. Tersangka kemudian dibawa ke kantor seksi dan selanjutnya diserahkan ke Gakkum Pekanbaru untuk proses hukum.
Hari-hari berikutnya tak kalah berat. Sebagian petugas mengawal proses pemeriksaan di kantor Gakkum, sementara tim lain tetap berpatroli, mengamankan sisa kayu olahan, membersihkan jalur dari pohon tumbang, hingga menyisir hutan tersisa di kawasan konservasi gajah Sumatra. Di jalur ini, mereka menemukan jejak tapir, beruang madu, serta sarang dan kotoran burung sempidan merah, indikasi penting bahwa habitat masih bertahan.

Pada Minggu, 25 Januari, tim kembali dihadapkan pada ancaman lain: kebakaran lahan di kawasan RHL Resort Air Hitam. Api yang membakar semak dan sawit muda berhasil dikendalikan menjelang sore, setelah petugas bekerja berjam-jam di lapangan.
Rangkaian patroli ini menggambarkan wajah konservasi yang sesungguhnya—sunyi, melelahkan, dan penuh risiko. Dari mencabut sawit, menelusuri jejak kendaraan, hingga menghadapi pelaku kejahatan hutan, semua dilakukan untuk menjaga sisa bentang alam Tesso Nilo.
Tim merekomendasikan operasi lanjutan untuk memusnahkan sawit dan pondok kosong di area bekas kebakaran, serta patroli rutin di titik rawan tindak pidana kehutanan. Sebab bagi mereka, menjaga hutan bukan hanya soal menegakkan aturan, tetapi memastikan ruang hidup satwa dan manusia tetap seimbang di masa depan.