
TNTN, Februari 2026 – Perjalanan enam hari itu dimulai dari kantor lapangan, ketika tim patroli memeriksa peta kawasan, memastikan GPS aktif, dan menyiapkan sepeda motor sebagai satu-satunya akses menembus rimba. Di wilayah kerja Taman Nasional Tesso Nilo, setiap langkah berarti menjaga hutan tetap berdiri.
Tim SPTN Wilayah II Gunung Melintang bergerak dari grid ke grid sejak 7–12 Februari 2026. Informasi awal tentang alat berat yang memperbaiki jalan di RPTN III Tesso membuat mereka menyisir jalur hingga grid G9 dengan sepeda motor. Jejak perbaikan jalan sepanjang sekitar satu kilometer ditemukan, namun alat beratnya telah hilang. Di koordinat sekitar permukiman, mereka justru menemukan jejak tapir, tanda bahwa satwa masih bertahan di tengah tekanan aktivitas manusia.
Perjalanan berlanjut ke grid L22. Camera Trap diambil, dan kecurigaan muncul setelah tim menemukan tempat menyalai ikan di tepi sungai. Tanda-tanda aktivitas manusia itu kontras dengan hutan yang masih menyimpan pohon berdiameter besar dan jejak satwa liar di sekitarnya.

Di grid L18, medan menjadi lebih berat. Tim kembali mendapati indikasi aktivitas ilegal: bekas kayu olahan dan penanaman sawit baru di lokasi yang sebelumnya sudah diperingatkan dan dimusnahkan. Lampu penerangan yang tertinggal menguatkan dugaan pembalakan dilakukan pada malam hari. “Ini pekerjaan yang tidak pernah benar-benar selesai,” ujar salah satu petugas di lapangan.
Kendala juga datang dari sarana. Saat distribusi kendaraan ke pos 12 dan 13 Palabi Jaya, satu unit sepeda motor mengalami kerusakan dan harus ditarik kembali ke balai. Di sela keterbatasan itu, tim tetap memantau lokasi bekas pemusnahan sawit dan pembangunan helipad, memastikan tidak ada aktivitas baru.
Patroli kemudian dilanjutkan ke grid J20 hingga Sungai Perbekalan. Dengan bantuan drone, tim mengamati bekas bukaan lahan yang mulai ditumbuhi vegetasi alami, pertanda suksesi berjalan. Meski begitu, temuan bekas kayu olahan kembali muncul di titik lain. Tim menyisir area sekitar, namun tidak menemukan indikasi perambahan baru.
Bagi para petugas, patroli bukan sekadar rutinitas. Mereka harus menempuh jalur sulit, menghadapi kerusakan kendaraan, hingga potensi konflik dengan pelaku ilegal. Namun di tengah tekanan itu, setiap jejak satwa dan tumbuhnya kembali vegetasi menjadi pengingat bahwa kerja mereka berdampak nyata. Upaya kecil yang, jika konsisten, menjadi benteng terakhir bagi hutan Tesso Nilo.