Taman Nasional Tesso Nilo

Di Tengah Kemarau Mengintai, Petugas SPTN I Lubuk Kembang Bunga Periksa Kesiapan Peralatan Pemadam Kebakaran

TNTN, Maret 2026 – Di tengah ancaman musim kemarau yang mulai menunjukkan taringnya, kesiapsiagaan menjadi kata kunci yang tak bisa ditawar. Hal itu tercermin dalam Apel Kesiapsiagaan Kebakaran Hutan dan pengecekan sarana prasarana (sapras) yang digelar di SPTN Wilayah I Lubuk Kembang Bunga, 30 Maret 2026.

Kegiatan yang melibatkan personel Manggala Agni SPTN I, Kepala Resort Air Sawan, serta para mahout ini bukan sekadar apel rutin. Lebih dari itu, kegiatan ini menjadi momen penting untuk memastikan seluruh peralatan pemadam berada dalam kondisi siap tempur menghadapi potensi kebakaran hutan dan lahan.

Namun di balik barisan apel yang tertib, tersingkap fakta lapangan yang menjadi perhatian serius. Hasil pengecekan menunjukkan sejumlah peralatan dalam kondisi tidak optimal. Dari 23 selang yang tersedia, 12 di antaranya mengalami kerusakan. Mesin Maxtree tercatat tidak dapat digunakan, sementara satu unit mesin Ministrek masih dalam kondisi baik. Kondisi serupa juga ditemukan pada peralatan lain seperti jetshooter, di mana hanya separuh yang masih berfungsi, serta beberapa perlengkapan pendukung seperti hand talkie dan selang minyak yang juga mengalami kerusakan.

Kondisi ini menjadi catatan penting di tengah tuntutan respons cepat dalam penanganan kebakaran hutan. Apalagi wilayah kerja SPTN I Lubuk Kembang Bunga termasuk kawasan yang rawan saat suhu meningkat dan curah hujan menurun.

Meski demikian, semangat petugas di lapangan tidak surut. Dengan keterbatasan yang ada, apel ini justru menjadi pengingat bahwa kesiapsiagaan tidak hanya soal alat, tetapi juga soal mental dan solidaritas antarpetugas di garis depan konservasi.

Pihak pelaksana menegaskan perlunya segera dilakukan perbaikan dan servis terhadap seluruh peralatan yang rusak. Langkah ini dianggap krusial, mengingat cuaca ekstrem dan potensi kebakaran yang dapat terjadi sewaktu-waktu tanpa peringatan.

Di tengah hening kawasan konservasi itu, satu hal menjadi jelas: para petugas tetap berdiri di garis depan, menjaga hutan dengan segala keterbatasan yang mereka hadapi.