Oleh:
Emi Gusprianti, S.Hut (Penyuluh Kehutanan pada Balai TN Tesso Nilo)
Fauzan Kahfi, S.Hut., MIL., M.Sc (Penyuluh Kehutanan pada Balai TN Tesso Nilo)

Indonesia dianugerahi oleh Tuhan Yang Maha Esa berupa hutan yang didalamnya terkandung keanekaragaman hayati yang luar biasa dan juga sumber daya alam yang melimpah. Hutan dikuasai oleh negara dengan tujuan memberikan manfaat serbaguna bagi umat manusia, karenanya wajib disyukuri, diurus dan dimanfaatkan secara optimal, serta dijaga kelestariannya untuk kemakmuran rakyat.
Hutan sebagai sistem penyangga kehidupan dan sumber penghidupan masyarakat cenderung menurun kondisinya, oleh karena itu keberadaannya harus dipertahankan secara optimal. Hal ini menjadi tantangan sekaligus peluang bagi pemerintah selaku pengelola hutan, diperlukan peran partisipasi aktif dari masyarakat (dalam hal ini Masyarakat Mitra Polhut, Masyarakat Peduli Api, dan KTH) dan juga mitra terkait (pemda, swasta dan NGO) sehingga kekayaan tersebut dapat dikelola dengan baik.
Salah satu fokus utama pemerintah dalam hal ini Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (saat ini menjadi *Kementerian Kehutanan) dalam satu dekade ini adalah mendukung berlangsungnya peningkatan kualitas sumber daya manusia sebagai katalisator dalam mencapai Indonesia Emas 2045. KLHK (dengan menggerakkan penyuluh kehutanan) memiliki peran strategis dalam upaya pemberdayaan masyarakat/kelompok tani hutan. Penyuluh kehutanan tidak hanya berperan aktif dalam pra kondisi masyarakat agar tahu, mau dan mampu, tetapi juga menumbuhkan kemandirian masyarakat dalam Pembangunan berbasis kehutanan khususnya bagi masyarakat di sekitar hutan konservasi.
Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN) sebagai hutan konservasi merupakan salah satu dari 57 taman nasional di Indonesia, ditunjuknya kawasan TNTN di Provinsi Riau dikarenakan memiliki nilai penting berupa perwakilan ekosistem transisi dataran tinggi-rendah, memiliki potensi kehati berupa flora dan fauna memiliki keanekaragaman jenis fauna berupa 114 jenis burung, 3 primata, 15 reptil, 50 ikan dan 82 jenis tumbuhan obat-obatan. Keberadaan TNTN menjadi sangat penting karena menjadi habitat dari satwa prioritas gajah sumatera (±138 ekor) dan harimau sumatera (±5 ekor), selain itu ditemukan juga berbagai jenis burung seperti elang ular bido, rangkong badak, kuau raja; jenis primata seperti owa ungko dan kera ekor panjang; mamalia yaitu rusa sambar, kijang muncak, tapir, dan beruang madu. Berbagai jenis flora juga dapat ditemukan di dalam kawasan TNTN seperti kulim, kempas, jelutung, tembesu, gaharu, ramin. Potensi penting lainnya berupa hasil hutan bukan kayu seperti madu hutan, damar, tanaman obat, rotan, pandan hutan, ikan air tawar, serta jasa lingkungan juga sangat potensial untuk mendukung kehidupan masyarakat penyangganya, termasuk memiliki panorama alam dengan berbagai potensi wisata alam. Kondisi geografis kawasan TNTN yang sebagian besar berbatasan langsung dengan kawasan hutan lainnya, area konsesi dan berbatasan langsung dengan desa (dikelilingi oleh lebih dari 22 desa yang masuk ke dalam 3 kabupaten) menyebabkan TNTN memiliki tantangan dan hambatan tersendiri di dalam pengelolaannya.
Balai TN Tesso Nilo di dalam Rencana Pengelolaan Masyarakat 2024-2028, menemukan 5 (lima) isu strategis dalam pemberdayaan masyarakat desa di sekitar kawasan Taman Nasional Tesso Nilo yaitu, 1.Peningkatan kesejahteraan dan kualitas hidup masyarakat (KTH) di sekitar TNTN; 2.Perlindungan dan pengamanan kawasan TNTN bersama masyarakat; 3.Rehabilitasi/pemulihan ekosistem TNTN bersama masyarakat; 4.Penyadartahuan tentang pentingnya kawasan TNTN dan konservasi Gajah Sumatera; dan, 5.Pengembangan ekowisata berbasis masyarakat dengan dukungan para pihak. Untuk memberikan solusi dalam menangani isu strategis pada poin 1 dan poin 4 di atas, BTNTN dan Pusat Penyuluhan – BP2SDM secara bersama-sama berupaya untuk meningkatkan kesadaran dan kemampuan masyarakat di sekitar kawasan hutan dengan memberikan program pendidikan lingkungan yang efektif. Program ini dapat membantu masyarakat memahami pentingnya melestarikan kawasan hutan dan mengelola sumber daya alam secara berkelanjutan. Program yang bernama Wanawiyata Widyakarya ini diberikan kepada KTH yang bertempat di pinggir kawasan hutan untuk membentuk wadah pembelajaran orang dewasa/sekolah lapang.
Program Wanawiyata Widyakarya model usaha bidang kehutanan dan/atau lingkungan hidup yang dimiliki dan dikelola oleh kelompok masyarakat atau perorangan yang ditetapkan oleh Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan sebagai percontohan, tempat pelatihan dan magang bagi masyarakat lainnya. Wanawiyata Widyakarya diharapkan memberikan manfaat yang signifikan seperti:
- Meningkatkan kesadaran dan kemampuan masyarakat dalam mengelola sumber daya alam dan lingkungan hidup.
- Meningkatkan kemampuan masyarakat dalam mengembangkan ekonomi lokal yang berbasis lingkungan.
- Meningkatkan kemampuan masyarakat dalam menghadapi perubahan iklim dan bencana alam.
- Meningkatkan kualitas hidup masyarakat dan meningkatkan kelestarian lingkungan hidup.
Program Wanawiyata Widyakarya ini digulirkan kepada Kelompok Tani Hutan Perempuan Batang Nilo (KTH Perbani). KTH Perbani merupakan salah satu kelompok binaan Balai Taman Nasional Tesso Nilo yang terletak di Desa Lubuk Kembang Bunga Kecamatan Ukui Kabupaten Pelalawan Provinsi Riau yang termasuk dalam Program Wanawiyata Widyakarya Tahun 2024 berdasarkan Keputusan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI Nomor: 11864 Tahun 2024 tentang Penetapan Wanawiyata Widyakarya Tahun 2024.
Ditunjuknya KTH Perempuan Batang Nilo dikarenakan kelompok ini sangat aktif dan mempunyai banyak kegiatan positif dalam hal meningkatkan pendapatan anggota kelompok. KTH Perbani juga menjadi tempat pemagangan bagi masyarakat luar desa yang ingin belajar berusaha di bidang kehutanan dan lingkungan hidup. KTH Perbani terbentuk pada tahun 2016 dengan anggota berjumlah 29 orang, yang memiliki usaha, yaitu:
- Pembibitan tanaman MPTS (durian, jengkol dan petai) dan Pakan gajah (nangka dan cempedak).
- Penanaman areal kemitraan konservasi: MPTS (jerenang, jengkol, petai, durian), penanaman home range gajah dengan tanaman yang disukai gajah (nangka, cempedak dan bambu), penanaman area di sekeliling kebun masyarakat dengan tanaman tidak disukai Gajah (jeruk).
- Pembuatan anyaman tangan dari pandan
- Pengelolaan Sampah
- Usaha Simpan Pinjam
- Budidaya Lebah Kelulut


Dari budidaya lebah kelulut ini, KTH Perbani telah menghasilkan produk madu yang dijual secara offline maupun online dengan memanfaatkan berbagai media yang ada saat ini. Dimana madu kelulut ini sangat bagus untuk kesehatan karena mengandung antioksidan yang baik untuk tubuh.
Dalam pemberian fasilitasi Program Wanawiyata Widyakarya bagi KTH Perbani, dilakukan kegiatan peningkatan kapasitas SDM pengelola wanawiyata widyakarya yang dilaksanakan tanggal 4-5 Desember 2024 di Desa Lubuk Kembang Bunga. Kegiatan tersebut dibuka secara langsung oleh Kepala Balai Taman Nasional Teso Nilo Bapak Heru Sutmantoro, S.Hut., MM., dimana di dalam sambutannya Kepala Balai berharap agar Program Wanawiyata Widyakarya ini dapat berdampak positif terhadap peningkatan kesejahteraan/pendapatan ekonomi bagi anggota KTH Perbani dan juga menjadi Duta BTNTN dalam memberikan dukungan pendidikan konservasi bagi masyarakat di sekitarnya guna membantu menjaga kelestarian Kawasan Taman Nasional Tesso Nilo.



Pada kegiatan peningkatan kapasitas SDM pengelola wanawiyata widyakarya ini turut memberikan materi narasumber dari Balai Penerapan Standar Instrumen Lingkungan Hidup dan Kehutanan Kuok, Andi Mandala Putra memberikan materi tentang budidaya lebah kelulut dan Yeni Aprianis, S.Si.,M.Sc memberikan materi tentang Public Speaking.


Pada pelaksanaan fasilitasi wanawiyata widyakarya KTH Perbani juga telah melakukan penanaman MPTS berupa matoa, mahoni, petai, jengkol, durian dilahan seluas 1 Ha sebanyak 500 batang yang ditanam di Tanah Kas Desa Lubuk Kembang Bunga. Tanaman ini diharapkan memberikan nilai ekonomi bagi anggota KTH Perbani dan dapat berdampak baik terhadap lingkungan hidup dan masyarakat disekitarnya.


Besar harapan kami dengan adanya fasilitasi Wanawiyata Widyakarya Tahun 2024 kepada KTH Perbani, kelompok dapat terus melakukan usaha di bidang kehutanan yang berdampak ekonomi, sosial dan lingkungan secara positif terutama dalam hal peningkatan pendapatan anggota KTH, terjaganya kelestarian kawasan hutan Taman Nasional Tesso Nilo dan mengajak masyarakat sekitar TNTN untuk mengurangi aktivitas yang mengakibatkan kerusakan lingkungan. Aamiin.
sumber : dipublikasikan pada majalah silvika