TNTN, April 2026 – Di bawah kanopi hutan yang kian terhimpit, petugas menatap lekat permukaan tanah. Ada sisa feses tapir yang masih lembap dan jejak kaisan babi hutan yang acak. Bagi orang awam, itu mungkin hanya kotoran dan tanah rusak. Namun bagi Irawan dan timnya, itu adalah detak jantung kehidupan yang masih tersisa di Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN).
Selama empat hari, terhitung sejak 17 hingga 20 April 2026, tim petugas dari Balai TNTN bersama tim dari Yayasan TNTN, melakoni rutinitas yang jauh dari kata nyaman. Mengandalkan motor trail, peta kerja, dan aplikasi SMART Patrol, mereka membelah kesunyian SPTN Wilayah I Lubuk Kembang Bunga demi memastikan satwa-satwa kunci masih berada di “rumah” mereka.

Perjuangan kali ini membawa mereka menembus batas konsesi. Pada Sabtu (18/4), setelah melacak sinyal GPS Collar, tim akhirnya berhadapan dengan realita: rombongan Gajah Sumatra kantong Tesso Tenggara
Kondisi lapangan tak selalu mulus. Saat menuju Resort Lancang Kuning Air Sawan, jalur mereka sempat terputus oleh tumbangan pohon akasia yang melintang. Sunyi, tak ada tanda aktivitas manusia selain jejak sepatu bot mereka.
Wilayah Lancang Kuning memang menjadi titik krusial. Di sana, jejak rusa, beruang madu, hingga tapir ditemukan berhamburan.
“Hutan alam yang tersisa ini adalah benteng terakhir. Jika kita berhenti berpatroli, maka musnahlah jalur lintasan mereka,” tegas laporan tim tersebut.

Patroli berakhir saat senja mulai turun di ufuk barat konsesi Arara Abadi pada Minggu sore. Tim memutuskan kembali, membawa data koordinat dan secercah harapan. Bagi mereka, tugas ini bukan sekadar jalan-jalan di hutan, melainkan upaya memutus rantai kepunahan di tengah kepungan sawit dan ancaman perburuan.
Rekomendasi mereka tegas: patroli rutin tak boleh kendor, pondok ilegal harus roboh, dan sawit di jalur satwa harus segera dimusnahkan. Karena di Tesso Nilo, setiap jejak kaki satwa adalah pesan bahwa alam masih berjuang untuk bertahan hidup, dan para petugas inilah saksi sekaligus pelindungnya.
