
TNTN, Mei 2026 – Di bawah tajuk langit yang tak menentu, sebuah rombongan kecil dengan tiga sepeda motor dan satu mobil berpenggerak empat roda membelah rimbunnya hutan. Bukan untuk berwisata, Tim SPTN Wilayah II Gunung Melintang sedang menjalankan misi rutin yang kian hari kian menantang: menjaga sisa-sisa napas hijau di kawasan Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN).
Selama enam hari, sejak 25 hingga 30 April 2026, tim ini berjibaku dengan medan yang sulit dan ancaman perambahan yang nyata.
Ketegasan di Tengah Rimba
Perjalanan kali ini tak sekadar memantau pepohonan. Di tengah jalur menuju Resort Situgal, deru mesin alat berat memecah keheningan hutan. Sebuah ekskavator ditemukan tengah menggaruk tanah untuk memperbaiki jalan ilegal di area pondok.
Tanpa kompromi, tim yang didampingi langsung oleh Kepala Seksi SPTN II segera mengambil tindakan tegas. Peringatan keras diberikan; aktivitas harus berhenti total dan alat berat wajib keluar dari kawasan saat itu juga. Ini adalah bukti bahwa meski jauh dari hiruk-pukuk kota, pengawasan hukum tetap bernapas di balik rimbunnya kanopi.

Melawan Hujan, Menanam Harapan
Namun, sisi lain dari patroli ini adalah tentang pemulihan. Di Grid L18, sebuah perjuangan fisik yang melelahkan terekam jelas. Di bawah guyuran hujan deras yang membasahi seragam hingga ke tulang, tim tetap menolak untuk berteduh.
“Kondisi cuaca hujan deras, namun tim tetap melanjutkan penanaman,” tulis laporan resmi tersebut secara singkat, namun menyiratkan dedikasi yang mendalam.
Hasilnya? Sebanyak 1.200 bibit, terdiri dari pohon Pulai dan Mahoni, berhasil ditanam di atas tanah yang becek dan licin. Tembilang dan parang menjadi saksi bisu bagaimana jemari para petugas memastikan setiap bibit memiliki kesempatan untuk tumbuh dan menggantikan lahan-lahan yang sempat rusak.