Taman Nasional Tesso Nilo

Menjaga Jantung Hijau Air Hitam: Mandat Berat di Bawah Guyuran Hujan dan Ancaman Sawit Liar

TNTN, Mei 2026 — Bagi Killer Silaban dan empat rekannya di Resor Air Hitam, menjaga keasrian hutan bukan sekadar perkara berjalan kaki melintasi pepohonan. Ini adalah pertarungan konsistensi melawan cuaca ekstrem dan laju perambahan yang seolah tak pernah tidur.

Selama tiga hari, sejak Jumat (15/5) hingga Minggu (17/5), tim patroli monitoring SPTN Wilayah I LKB yang digawangi oleh Killer Silaban, Martinho Pinto, Ahmad Rivai, Ridho Dwi Hendrawan, dan Wolfy Regino, kembali menembus lebatnya kawasan hutan. Tugas mereka jelas, namun medannya selalu penuh kejutan.

Hari pertama langsung menguji mental tim. Langit di atas Air Hitam tumpah, mengirimkan hujan deras sejak pagi buta hingga menjelang sore. Di tengah kondisi tanah yang basah dan licin, tim menolak untuk berdiam diri. Begitu hujan mereda menjadi gerimis tipis di sore hari, parang dan cangkul langsung diayunkan.

Sebanyak 130 bibit pohon aren berhasil ditanam di sekitar kawasan flying squad. Bagi para petugas, setiap bibit yang tertanam adalah napas baru bagi masa depan paru-paru bumi ini.

Perjuangan berlanjut pada hari Sabtu. Menembus kawasan Sungai Tapa, tim kembali menghijaukan grid F23 dengan 130 bibit mahoni, pulai, dan trembesi. Menariknya, di tengah kepungan hutan, tim juga harus berperan sebagai “dokter” vegetasi—memeriksa tanaman minggu lalu, memastikan mana yang tumbuh subur dan mencatat mahoni-mahoni yang daunnya mulai layu untuk dievaluasi.

Sisi humanis dan ketegasan petugas benar-benar diuji saat mereka memergoki empat orang pekerja di tengah hutan. Di bawah terik yang mulai menyengat, keempat orang tersebut kedapatan sedang merawat tanaman kelapa sawit ilegal yang baru berumur satu tahun di atas lahan seluas setengah hektar.

Salah satu pekerja bernama Robi, warga asal Gambangan, mengaku mereka sudah menguasai sekitar 5 hektar sawit yang telah panen di area lain. Kini, mereka mencoba memperluas cengkeraman sawit baru di zona terlarang ini.

Di sinilah peran krusial Killer Silaban dan timnya diuji. Tanpa perlu angkat senjata, pendekatan persuasif namun tegas menjadi tameng utama. Petugas memberikan sosialisasi dan peringatan keras: tidak boleh ada lagi perawatan sawit di bawah umur 5 tahun, dan haram hukumnya menanam sawit baru.

“Tim langsung memerintahkan mereka menghentikan aktivitas, menggali kembali lubang tanam sebagai efek jera, dan mengawal mereka keluar dari kawasan hutan agar tidak kembali merambah,” tulis tim dalam laporan resminya.

Perjalanan tiga hari itu ditutup pada Minggu (17/5) dengan agenda yang tampak sederhana namun menguras fisik: melakukan patroli pemungkas sembari memboyong mesin genset menuju Poskotis guna memastikan urat nadi komunikasi dan operasional posko tetap menyala.

Sekembalinya dari hutan, tim membawa rekomendasi penting. Menanam pohon saat patroli harus terus menjadi tradisi yang tak boleh putus. Namun yang lebih mendesak, mereka merekomendasikan pemusnahan massal tanaman sawit liar yang telanjur ditanam perambah menggunakan herbisida (garlon).

Jika dibiarkan tumbuh besar dan berbuah, konflik agraria di masa depan akan semakin pelik, dan hutan Air Hitam perlahan akan kehilangan jati dirinya. Killer Silaban dan kawan-kawan telah menunjukkan dedikasinya di garis depan; kini tinggal bagaimana komitmen kolektif kita menjaga punggungan hutan ini agar tetap lestari.