
TNTN, Juni 2026 – Patroli kali ini menjadi hari yang menguras emosi sekaligus fisik. Di Resort Nilo, tim menemukan hamparan semak belukar kering yang sengaja diracun oleh oknum warga. Di bawah cuaca Toro Jaya yang belakangan bersuhu panas menyengat, vegetasi mati ini adalah bom waktu. Sedikit saja ada percikan api, bencana Karhutla dipastikan pecah.
Tak mau kecolongan, tim langsung melakukan pendekatan humanis. Mereka mengetuk pintu-pintu rumah masyarakat, memberikan edukasi bahwa membakar lahan bukan sekadar membuka kebun, tapi mengundang petaka.
Namun, tantangan tak berhenti di situ. Saat mengecek aliran Sungai Tembago, tim kembali menemukan kebun sawit yang diracun, lengkap dengan luka menganga di hutan alam: sisa-sisa pembalakan liar kayu Meranti yang diperkirakan baru berumur seminggu.

Sebelum bentrok dengan realita di Resort Nilo, tim sebenarnya sempat memantau pembangunan Pos 10 Dusun Toro Jaya pada Selasa (2/6). Pos yang sudah mencapai progres 70 persen ini diproyeksikan kelar dalam dua minggu ke depan. Bagi para petugas, pos ini nantinya adalah “kemewahan kecil”, tempat bernaung yang layak setelah seharian dihajar cuaca ekstrem, seperti malam sebelumnya yang sempat diguyur hujan lebat.
Perjuangan fisik yang sesungguhnya kembali diuji pada Kamis (4/6). Dengan berjalan kaki menembus grid M22 menuju Camp Bidah, tim hanya bisa melepas lelah dan menyantap bekal siang di sebuah pondok rawa yang sunyi.
Di tengah rute melelahkan itu, mereka menemukan terpal bekas pemburu liar. Namun, di tengah kecemasan itu, alam Gunung Melintang seolah memberi penyemangat. Tim berpapasan langsung dengan kepakan anggun burung Rangkong, jejak tapak babi, dan sisa kaisan landak. Hewan-hewan eksotis ini seolah menitipkan pesan: jangan biarkan rumah kami terbakar.

Setelah menguras energi di dalam rimba, Jumat (5/6) pagi ditutup dengan aksi gotong royong membersihkan lingkungan kantor SPTN Wilayah II Gunung Melintang. Sebuah ritus sederhana untuk menjaga soliditas tim.
Dari balik rimbunnya hutan Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN), tim membawa pulang rekomendasi penting. Kawasan ini sudah dalam status ‘siaga batin’, spanduk peringatan Karhutla akan segera ditebar di titik strategis, dan patroli di jalur illegal logging wajib diperketat.
Sebab bagi Syarifudin dan kawan-kawan, begitu mereka lengah sedikit saja, hijau yang mereka jaga hari ini bisa jadi abu keesokan harinya.