
TNTN, JUNI 2026 — Suara raung mesin sepeda motor trail memecah keheningan total di sisa-sisa hutan Sumatra. Di bawah cuaca yang tak menentu, petugas TNTN berjalan kaki menembus lebatnya semak belukar, sesekali mengayunkan parang untuk membuka jalur yang tertutup. Kepala SPTN Wilayah I LKB Asari, S.Hut dan tim Smart Patrol SPTN Wilayah I Lubuk Kembang Bunga, perjalanan enam hari di pertengahan Juni 2026 ini bukan hanya sekadar tugas rutin, melainkan perang sunyi melawan para perambah demi menyelamatkan Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN).
Langkah awal perjuangan ini sebenarnya dimulai dengan atmosfer yang hangat pada Kamis, 11 Juni 2026. Hari itu, seluruh personel sibuk melakukan persiapan untuk menyambut kedatangan Kapolda Riau. Ada misi menyentuh hati di balik kunjungan tersebut: memberikan nama bagi seekor anak gajah yang baru lahir. Di tengah tingginya konflik lahan dan ancaman kepunahan, kelahiran bayi mamalia besar ini menjadi secercah harapan yang patut dirayakan oleh para penjaga rimba.
Namun, kegembiraan itu segera berganti dengan peluh dan ketegangan keesokan harinya. Bersama personel TNI dan dibersamai anak-anak magang yang masih belia, tim bergerak melakukan patroli darat menuju Resort Air Sawan. Tiga pucuk senjata api disandang di bahu, sebuah pelindung terakhir jika sewaktu-waktu konflik satwa atau gesekan fisik dengan perambah liar tak lagi bisa dihindari.

Ujian mental pertama datang saat mereka menyisir kawasan hutan. Tim menemukan sebuah pemandangan yang menyayat hati: makam seekor anak gajah yang mati beberapa waktu lalu telah dibongkar oleh hewan liar. Tulang-belulangnya berserakan di atas tanah humus. Tanpa membuang waktu, dengan tangan mereka sendiri, para petugas mengumpulkan kembali sisa-sisa tulang tersebut dan menguburkannya kembali secara layak. Tak jauh dari sana, sebuah pondok liar perambah yang berdiri menantang hukum langsung dirobohkan, lalu diganti dengan penanaman bibit pohon hutan yang baru.
Puncak bahaya yang sesungguhnya terjadi pada Sabtu, 13 Juni. Setelah mendeteksi jejak kotoran segar dari satu kelompok gajah liar di kawasan penyangga (bufferzone) Lancang Kuning, tim bergerak taktis menuju areal-areal yang dipilih.
Suasana seketika mencekam saat tim menemukan sepeda motor kebun terparkir di areal tersebut . Di sana, mereka memergoki seorang pria berinisial AG, pekerja yang tengah mandi keringat membabat hutan untuk menanam sawit baru. Pria itu gemetar dan mengaku hanya buruh harian yang baru bekerja dua minggu. Mengedepankan sisi kemanusiaan namun tetap kokoh pada aturan, tim menyita parangnya, mencabuti ratusan bibit sawit haram itu satu per satu dengan tangan telanjang, dan memberikan peringatan keras agar ia segera angkat kaki dari kawasan taman nasional.
Enam hari menyusuri rimba telah usai, namun perjuangan mempertahankan sisa hutan Sumatra ini masih jauh dari kata selesai. Bagi para petugas, setiap jengkal Tesso Nilo adalah benteng pertahanan terakhir bagi keanekaragaman hayati yang harus dibela, meski taruhannya adalah nyawa mereka sendiri.
