
TNTN, Juli 2026 — Jarum jam baru saja melewati angka 23.00 WIB. Di tengah kegelapan pekat kawasan Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN), raungan mesin alat berat Sany baru saja mereda. Di bawah temaram lampu kerja, sang operator, menyeka keringat yang bercampur debu gambut di dahinya. Hari itu, Senin (6/7/2026), ia dan tim gabungan baru saja menuntaskan pemusnahan hektaran kelapa sawit ilegal yang telanjur merangsek masuk ke dalam jantung kawasan konservasi.
Ini bukan sekadar operasi penertiban biasa. Ini adalah perang senyap mengembalikan hak alam.
Berdasarkan surat perintah resmi dari Balai Penegakan Hukum (Gakkum) Kehutanan Wilayah Sumatera dan Balai Taman Nasional Tesso Nilo yang dirilis awal Juli, sebuah misi besar dimulai sejak Senin (5/7/2026). Misinya satu: memulihkan ekosistem Tesso Nilo yang kian terhimpit oleh ekspansi perkebunan kelapa sawit tak berizin.

Perjuangan di lapangan jauh dari kata mudah. Berbekal 5 unit sepeda motor, 2 mobil operasional, dan kawalan ketat petugas bersenjata api untuk mengantisipasi potensi konflik kemanan, tim bergerak membelah hutan. Musuh mereka bukan hanya penolakan, melainkan medan yang ekstrem dan kendala teknis yang menguras emosi.
Tengok saja apa yang terjadi pada Rabu (8/7/2026). Di bawah terik matahari, alat berat Hitachi Zaxis yang dioperasikan mendadak bungkam akibat kerusakan mesin di petak 3, setelah merobohkan 1,5 hektar sawit milik seorang warga berinisial AT. Di sudut lain, tepatnya di petak 10, operator mengendalikan ekskavator Sany harus memutar otak. Hamparan kelapa sawit ilegal milik warga berinisial J justru terkunci di tengah kepungan hutan lebat. Alat berat tak punya celah untuk merangsek masuk.
“Kalau alat tidak bisa masuk, bukan berarti sawit ilegal ini dibiarkan. Solusinya, petugas harus berjalan kaki masuk ke dalam dan menyuntikkan racun secara manual ke batang-batang sawit itu,” bisik salah satu petugas di lapangan. Langkah ini melelahkan, namun harus diambil demi memastikan restorasi tetap berjalan.

Hingga Selasa (7/7/2026), operasi bertahap ini terus merayap pasti. Hektar demi hektar lahan yang dikuasai secara ilegal oleh belasan warga, seperti lahan milik S, M, P, L, hingga Y satu per satu dikembalikan fungsinya. Menggunakan teknologi modern, tim juga menerbangkan drone untuk memetakan dan memastikan areal yang telah ditumbangkan benar-benar bersih agar alam bisa bernapas kembali.
Operasi ini belum usai. Ini adalah kerja maraton yang dilakukan secara bertahap. Di balik angka-angka koordinat GPS yang rumit dan target luasan hektar yang kaku, ada peluh para petugas Gakkum dan Balai TNTN yang bertaruh lelah hingga larut malam. Mereka bertahan di kesunyian hutan, merobohkan tanaman monokultur, demi menjemput kembali masa depan Tesso Nilo yang hijau dan lestari.
