Di tengah terik kemarau dan ancaman perambahan yang tak pernah surut, tim patroli SMART dan prajurit TNI mempertaruhkan stamina memotong akses pembalak serta memulihkan paru-paru bumi di Taman Nasional Tesso Nilo.
TNTN, AGUSTUS 2026 – Resor Air Hitam, SPTN Wilayah I LKB,18 – 23 Agustus 2026, Deru empat unit sepeda motor pelan-pelan meredam, tergantikan oleh gesekan parang yang membelah rapatnya tanaman resam dan dentum batang kayu tumbang yang melintang di jalur hutan. Hari itu, Selasa (18/8), enam petugas patroli—Killer Silaban, Martinho Pinto, Eko Supriadi, Ahmad Rivai, Wolfy Regino, dan Dariyus—bersama prajurit TNI dari Pos Gambangan dan RHL, kembali memulai babak baru perjuangan sunyi mereka di jantung Resor Air Hitam, Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah I LKB.
Bagi para benteng terdepan pelestari kawasan Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN) ini, enam hari ke depan bukanlah sekadar rutinitas penjelajahan. Berbekal peta digital Avenza Map, cangkul, dodos, pilox, serta raungan chainsaw, mereka menyusuri tapak-tapak hijau yang kian tergencet oleh ketakutan akan kebakaran hutan dan serbuan lahan sawit ilegal.
Jejak Rimba dan Kucing Besar yang Bersembunyi
Menuju Grid H21 Sialang Muluk pada Rabu (19/8), medan tak memberikan kemudahan. Pepohonan tumbang akibat diterjang angin kencang menutup akses utama. Dengan peluh yang membasahi seragam, tim bahu-membahu membersihkan jalur demi membuka jalan menuju dua pohon Sialang raksasa. Meski hari itu tak ada sarang lebah yang bergantung di dahan tinggi, keberadaan jejak segar tapir serta bekas cakaran beruang di kulit kayu menjadi penanda vital: kehidupan liar di sudut hutan alam ini masih bertahan.
“Setiap jejak tapir dan cakaran beruang di pepohonan adalah pengingat bahwa rimba ini masih bernapas, dan tugas kami adalah memastikan napas itu tidak terhenti.”
Namun, ketenangan rimba kembali diuji saat tim merambah daerah Gambangan (Grid J23 dan J22) pada Kamis (20/8). Di sana, sebuah jembatan kayu melintasi Sungai Air Hitam tampak baru saja diperbaiki secara sembunyi-sembunyi. Jembatan ini adalah jalan pintas ilegal menuju kawasan hutan tersisa, jalur melintas kendaraan roda dua milik para perambah.
“Jembatan ini sudah berulang kali kami hancurkan, terakhir tahun lalu bersama Satgas TNI. Tapi mereka terus membangunnya kembali,” ujar salah satu anggota tim.
Tanpa ragu, usai berjalan kaki menelusuri rute sejauh dua kilometer dan menemukan kotoran segar yang diduga milik Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae), keputusan tegas diambil: jembatan tersebut dihancurkan total kembali. Memutus akses fisik adalah satu-satunya cara membendung niat pihak-pihak tak bertanggung jawab merusak habitat sang raja hutan.
Langkah pantang menyerah berlanjut pada Jumat (21/8) di kawasan Sungai Tapa (Grid F23). Di bawah terik matahari kemarau yang menyengat, tim memikul 120 batang bibit pohon. Di lokasi ini, mereka mendapati lahan ‘himasan’ (perintisan) seluas dua hektar yang baru saja ditanami bibit sawit kecil, sebuah bom waktu yang sangat rawan memicu kebakaran hutan.
Satu per satu bibit sawit ilegal dicabut hingga akar. Sebagai gantinya, jemari para petugas yang berbalut tanah menanamkan kembali bibit-bibit pohon hutan. Mereka mengganti simbol kerusakan dengan janji pemulihan.
Sabtu (22/8) menjadi salah satu hari paling krusial. Memasuki area AM hingga Grid H23 dan kawasan pemulihan ekosistem blok 2, ancaman kebakaran berada di titik tertinggi. Cuaca panas ekstrem membuat serasah kayu begitu mudah terbakar. Dalam perjalanan, tim sempat menghentikan warga di Kampung RHL yang membakar sampah demi mencegah kobar api meluas.

Di Grid H23, tim memergoki aktivitas pembuat arang ilegal. Teguran keras dilayangkan, memaksa mereka segera mengemas barang dan keluar dari kawasan taman nasional. Tak jauh dari lokasi tersebut, kejelian tim kembali diuji saat menemukan bukaan baru berupa buangan kayu mahang serta tunggul kayu yang masih mengeluarkan asap tipis. Sebelum api menyebar menjadi bencana besar, petugas sigap memadamkan sisa asap dan memusnahkan tanaman sawit baru di sekitarnya.
Di balik angka-angka grid koordinat dan lembar laporan resmi, ada keringat, kepulan asap yang berhasil dipadamkan, serta jembatan perambah yang dihancurkan. Tim SMART Patrol TNTN dan prajurit TNI membedah belantara bukan sekadar untuk bertugas, melainkan demi memastikan benteng hijau terakhir ini tetap berdiri tegak bagi generasi mendatang.

