
TNTN, Agustus 2026 — Sepatu lars yang basah dan bau solar yang menyengat di sela jari jemari sudah jadi kawan sehari-hari bagi Jon Saputra dan timnya. Hari itu, bersama lima rekannya serta personel TNI dari Pos 3 Kenayang, mereka kembali membelah rimbunnya Resort Air Sawan di kawasan Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN).
Awalnya, langkah mereka mengarah ke aliran Sungai Sawan setelah menerima desas-desus aktivitas tambang emas ilegal (PETI). Menyusuri semak belukar dengan kewaspadaan penuh, tim menyisir titik koordinat yang dituju. Meski lokasi sudah sepi dan tak menemukan pelaku, mereka tak lantas berbalik arah.
Ujian sebenarnya justru menanti di daerah Lancang Kuning. Di sana, ratusan bibit sawit liar tampak baru saja ditancapkan secara sembunyi-sembunyi oleh perambah. Tanpa membuang waktu, parang diayunkan. Satu per satu bibit ditumbangkan, lalu disiram campuran garlon dan solar agar matang dan tak bisa tumbuh lagi. Total ada 112 bibit sawit yang berhasil dimusnahkan hari itu.

“Kalau tidak langsung dibabat, minggu depan tanah ini sudah berubah jadi kebun,” gumam salah satu petugas sembari menyapu keringat di dahi.
Perjalanan berlanjut menembus trek Kenayang menuju Simpang Meranti. Di sepanjang rute ini, rapatnya semak belukar yang mulai menutupi jalur patroli jadi rintangan fisik tersendiri. Namun, ada sedikit kelegaan saat menyaksikan bekas-bekas lahan terbakar kini mulai dihijaukan kembali oleh alam secara alami.

Hingga matahari condong ke barat, tak ada riak aktivitas warga yang mencurigakan. Hutan kembali hening, dan para penjaga rimba ini pun menuntaskan tugasnya, memastikan Tesso Nilo tetap berdiri, meski harus terus berpacu dengan waktu dan lebatnya belukar.