
TNTN, Juni 2026 – Jalan kaki menembus hutan selama enam hari berturut-turut jelas bukan perkara sepele. Tapi bagi Anton, Gobel, Septo, Agil, Ebri, dan Reno, itu sudah jadi makanan sehari-hari. Pekan lalu, dari tanggal 17 sampai 22 Juni 2026, keenam petugas dari SPTN Wilayah II Gunung Melintang ini kembali masuk ke dalam rimba Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN). Misinya sama seperti biasa: memastikan hutan ini tidak habis dijarah.
Perjalanan kali ini terasa agak bikin was-was. Saat tim berjalan, mereka disuguhi pemandangan yang bikin elus dada. Banyak semak belukar yang mati karena sengaja disemprot racun rumput. Di bawah cuaca yang mulai terik, semak kering begini persis seperti tumpukan bensin yang siap meledak kalau ada yang iseng membuang puntung rokok. Kondisi ini diperparah saat mereka mengecek anak sungai Nilo; airnya sudah surut dan hampir kering keroncong.
Sadar kalau bahaya kebakaran hutan sudah di depan mata, tim ini jadi ekstra cerewet sepanjang jalan. Tiap kali ketemu gubuk atau rumah warga di pinggir hutan, mereka selalu mampir. Sambil melepas lelah, petugas-petugas ini mengingatkan warga dengan bahasa yang santai tapi serius: “Tolong, jangan ada yang bakar-bakar lahan ya, Pak. Hutan kita sudah kritis.”

Tapi di balik rasa cemas, hutan Tesso Nilo selalu punya cara sendiri untuk menghibur para penjaganya. Di tengah jalan yang sunyi, langkah kaki tim sempat terhenti. Di atas tanah berlumpur, mereka melihat jejak kaki beruang dan tapir yang masih cukup baru. Buru-buru mereka memotret dan memasukkan datanya ke aplikasi Smart Patrol. Momen-momen kecil seperti inilah yang selalu jadi bahan bakar semangat mereka: satwa-satwa langka itu masih ada di dalam sana, bergantung pada kerja keras mereka.

Tentu saja, patroli ini tidak melulu soal melihat jejak satwa dan mengobrol dengan warga. Sisi gelap rimba tetap mereka temukan. Di satu titik, mereka menemukan dua batang pohon raksasa yang baru saja tumbang ditebang. Untungnya, pelaku tampaknya kabur duluan sebelum sempat memotong-motong kayu tersebut. Di dekat Sungai Perbekalan, mereka juga menemukan kikir mesin gergaji (chainsaw) yang tertinggal, bukti bahwa para pembalak liar baru saja beraktivitas di sana.
Ketegangan sempat memuncak saat tim berpapasan dengan dua warga di tengah jalan. Keduanya kedapatan membawa lima ekor burung daun yang cantik dan dua ikat besar kulit kayu resak hasil jarahan dari dalam hutan.
Di sinilah ketegasan Anton dan kawan-kawan diuji. Tanpa kompromi, burung-burung malang itu langsung dilepaskan kembali ke alam liar saat itu juga, dan kulit kayunya dimusnahkan. Kedua warga itu langsung didata, difoto, dan diberi peringatan keras: jika sampai tertangkap tangan lagi, urusannya bukan lagi sekadar teguran, melainkan jeruji besi.
Sebelum akhirnya kembali ke kantor seksi dengan baju yang penuh keringat dan kaki yang pegal, tim sempat memaku plang seng peringatan di perbatasan kawasan.
Laporan sudah diserahkan, tapi buat mereka, pekerjaan ini tidak pernah benar-benar selesai. Catatan penting langsung diajukan ke pimpinan, patroli harus mulai digeser ke malam hari. Sebab, para perambah hutan sekarang makin cerdik. Mereka tahu petugas berpatroli siang hari, jadi mereka baru berani menyalakan mesin chainsaw saat hari sudah gelap gulita.
Bagi keenam pria ini, lelah dan bahaya di dalam hutan adalah risiko jabatan. Selama pohon-pohon di Gunung Melintang masih berdiri, mereka akan terus berjalan kaki, menjaga benteng terakhir Tesso Nilo.