Taman Nasional Tesso Nilo

Bara Tersembunyi di Tanah Gambut: Senyapnya Ancaman Karhutla dan Perambahan TNTN

TNTN, Agutus 2026 — Panas bumi gambut Riau tak pernah benar-benar menjanjikan kenyamanan. Bagi Deni Hendika Putra dan lima rekannya di Tim Manggala Agni SPTN Wilayah I LKB, pertengahan Agustus 2026 menjadi pembuktian kesekian kalinya tentang arti kesetiaan pada rimba. Bersama personel Babinsa TNI Pos 3 Kenayang dan Polsek Ukui, mereka kembali menyusuri lekuk-lekuk Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN) yang kian tersudut.

Kisah bermula pada Minggu sore (23/8). Layar pemantau satelit menunjuk satu titik merah menyala di Resort Lancang Kuning. Tanpa membuang waktu, raungan mesin tiga unit sepeda motor dan satu kendaraan dinas memecah kesunyian rimba. Di atas bahu para petugas, terikat beban tak ringan: mesin pemadam minitrex, gulungan selang, hingga jet shooter yang beratnya berlipat ganda saat terisi air.

Memasuki lokasi, kepulan asap membumbung tinggi, mengepung pandangan. Di tanah gambut, api kerap bersembunyi di bawah permukaan, merayap diam-diam di antara perakaran kering. Hingga pekat malam jatuh, jerih payah memadamkan lidah api terbentur batas keselamatan. Mengingat medan vegetasi rapat dan risiko ancaman liar, tim terpaksa menarik diri kembali ke kantor seksi, menyimpan sisa tenaga untuk pertempuran esok hari.

“Senjata kami bukan hanya selang dan parang, tapi juga kesabaran. Di lahan gambut, api yang tampak mati di permukaan kerap menyimpan bara membara di kedalaman.”

Fajar Senin (24/8), tim kembali menembus asap. Kali ini, pencarian sumber air menjadi misi hidup mati. Selang-selang sepanjang ratusan meter diurai, menyambungkan nosel ke kolam-kolam alami terdekat. Berjam-jam air disemprotkan, tak hanya untuk memadamkan api yang terlihat, tetapi juga melangsungkan pendinginan (cooling down) mendalam agar gambut tak kembali mengepulkan asap. Baru setelah dipastikan steril dan mendapat pengarahan singkat dari Polsek Ukui, tim kembali melangkah pulang dengan otot tegang dan pakaian hitam berjelaga.

Selasa (25/8) menjadi hari jeda yang dipaksakan. Bukan karena semangat yang surut, melainkan armada dinas yang terbatas tengah digunakan tim patroli lain, sementara tubuh-tubuh penjaga hutan itu butuh pemulihan fisik usai menguras stamina di garis depan pertempuran bara.

Ancaman TNTN tak hanya datang dari kobaran api alami. Saat patroli penyisiran dilanjutkan pada Rabu (26/8) hingga Jumat (28/8) menembus wilayah Resort Air Hitam hingga daerah AM, tim berhadapan dengan luka lama kawasan ini, perambahan lahan secara masif.

Tim menemukan hamparan kebun sawit ilegal yang masih aktif dikelola. Daun-daun imasan bekas tebasan meranting kering di bawah terik matahari menjadi bahan bakar sempurna yang sewaktu-waktu bisa memicu bencana kebakaran besar berikutnya.

Di sebuah pondok kayu sederhana di tengah kebun pisang ilegal, tim hanya menemukan kesunyian. Pemiliknya telah menghilang sebelum jejak sepatu lari petugas terdengar. Meski tak ada pelanggaran fisik baru yang tertangkap tangan hari itu, sisa-sisa pembersihan lahan kering menjadi alarm keras bahwa ancaman kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) sengaja diciptakan oleh tangan-tangan tak bertanggung jawab.

Bagi Deni, M. Rizal, Deri, Tengku Fiki, Mizi, Hendra Rizki, serta rekan-rekan TNI-Polri, tugas minggu ini mungkin telah usai. Namun selagi rimba Tesso Nilo masih terkepung oleh kebun-kebun ilegal dan ancaman api, sepatu boot mereka tak akan pernah benar-benar kering dari lumpur gambut.