Taman Nasional Tesso Nilo

Bertaruh Keringat di Garis Batas: Enam Hari Menantang Nyali di Gunung Melintang

TNTN, MEI 2026 — Deru dua unit sepeda motor membelah keheningan pagi di kawasan Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah II Gunung Melintang. Di atasnya, Robert Simatupang, Wahyu Budi Santoso, Muhammad Abdi, dan Muhammad Misran duduk dengan siaga. Di punggung mereka, ransel berat berisi peta kerja, alat tulis, parang, dan sebuah drone siap menjadi saksi bisu dari sebuah misi penting yang berlangsung selama enam hari, sejak 12 hingga 17 Mei 2026.

Tugas keempat personel ini tidak ringan, mereka melakukan inventarisasi dan verifikasi kegiatan terbangun di areal perambahan. Ini bukan sekadar urusan mencatat angka di atas meja nyaman bercat putih, melainkan sebuah perjuangan fisik untuk memastikan akurasi data di batas hutan yang kerap kali tak ramah.

Langkah awal dimulai dengan diplomasi lapangan. Tim melakukan koordinasi ketat dengan memastikan proses verifikasi berjalan objektif dan kondusif. Setelah kesepahaman tercapai, petualangan di medan yang sesungguhnya pun dimulai. Mereka harus melacak lima blok lahan yang letaknya terpisah jauh, membelah vegetasi erat demi meraup data batas dan titik sudut yang valid.

Menjangkau titik-titik koordinat ini menuntut ketahanan fisik yang prima. Parang di tangan kanan sesekali diayunkan untuk membuka jalan yang tertutup rapat oleh semak belukar. Sementara di area yang mustahil ditembus kaki, teknologi drone diterbangkan, menjadi “mata langit” mereka untuk memetakan lanskap dari ketinggian.

Setelah menuntaskan total 120,87 hektare lahan, tim mencatat  di Blok rimba hijau Sumatra masih mencoba bertahan; sebagian areal ditemukan masih berupa tutupan hutan alami dan semak belukar yang lebat.

Enam hari bergulat dengan debu, terik, keringat, dan ketidakpastian medan liar, keempat petugas ini akhirnya berhasil merampungkan misinya dengan selamat.