
TNTN, Maret 2026 – Fajar belum sepenuhnya pecah saat tim patroli mulai bergerak menyusuri rimba Taman Nasional Tesso Nilo. Di tengah kabut tipis dan jalur yang kian tertutup semak, langkah mereka menjadi penanda bahwa hutan ini masih dijaga, meski tekanan dari luar tak pernah benar-benar reda. Selama enam hari, 12–17 Maret 2026, tim SMART Patrol SPTN Wilayah II Gunung Melintang menembus medan berat, dari semak yang menutup jalur, hingga ancaman kebakaran dan aktivitas ilegal yang terus mengintai.
Perjalanan dimulai dengan persiapan sederhana di markas. Namun, hari berikutnya langsung menguji ketangguhan. Di grid G6, tim berjibaku memadamkan api bersama tim pemadam, menghadapi kebakaran yang melalap sekitar 10 hektare di kawasan penyangga dan merembet hingga ke dalam kawasan konservasi. Asap, panas, dan medan yang sulit menjadi bagian dari rutinitas yang tak bisa ditawar.
Tak hanya api, ancaman lain muncul dalam bentuk sunyi yang mencurigakan. Di beberapa titik, tim menemukan bekas pembakaran, aktivitas perawatan hingga penanaman sawit baru yang diam-diam merambah kawasan. Di grid I19, plang peringatan dipasang—sebuah pesan tegas bahwa hutan ini bukan untuk diperjualbelikan, apalagi dirusak.

Hari-hari berikutnya menghadirkan potret yang lebih kompleks. Di Resort Tesso, tim menemukan jejak pembukaan lahan masif: penumbangan menggunakan alat berat mencapai sekitar 90 hektare, disusul peracunan lahan hingga 220 hektare. Angka-angka itu bukan sekadar statistik, melainkan luka nyata bagi hutan.
Namun di balik ancaman itu, alam masih menunjukkan daya pulihnya. Di bekas kebakaran tahun 2023, vegetasi muda mulai tumbuh. Lebih dari itu, tim menemukan tanda kehidupan liar, kotoran yang diduga milik Harimau Sumatera. Sebuah pengingat bahwa predator puncak itu masih bertahan, diam-diam mengawasi dari balik rimbun yang tersisa.
Patroli juga memperlihatkan dinamika sosial yang tak kalah rumit. Pondok-pondok kosong, bekas gubuk perambahan yang telah dirobohkan, hingga interaksi langsung dengan warga yang masih beraktivitas di dalam kawasan menjadi bagian dari keseharian petugas. Edukasi dan peringatan disampaikan, terutama terkait larangan membuka lahan dengan api di tengah cuaca yang panas dan kering.
Meski sebagian kawasan menunjukkan tanda pemulihan alami, tekanan tetap ada. Plang peringatan yang dirusak, aktivitas ilegal yang berulang, hingga akses terbuka yang memudahkan perambahan menjadi pekerjaan rumah yang belum selesai.
Di hari terakhir, tim kembali ke markas, membantu persiapan kunjungan pejabat tinggi negara. Sebuah kontras yang nyata—antara hiruk-pikuk agenda resmi dan sunyinya perjuangan di lapangan.
Dari bara api hingga jejak harimau, patroli ini bukan sekadar rutinitas. Ia adalah cerita tentang keteguhan, tentang sekelompok orang yang memilih bertahan di garis sunyi, menjaga hutan agar tetap hidup, satu langkah demi satu langkah.