Taman Nasional Tesso Nilo

Hutan Berbicara Lewat Jejak, Petugas Menjawab dengan Aksi

TNTN, APRIL 2026 -Di bentang hutan yang kian menyempit di Taman Nasional Tesso Nilo, langkah-langkah kecil para petugas justru menjadi penanda harapan. Selama lima hari, 3 hingga 7 April 2026, tujuh personel patroli SMART menyusuri jalur sunyi di SPTN Wilayah I LKB, membaca tanda-tanda kehidupan, sekaligus memastikan tak ada jejak manusia yang merusak.

Patroli dimulai dengan persiapan sederhana: memperbaiki sepeda motor, menyiapkan peta kerja, dan memastikan peralatan siap menembus rimba. Namun sesungguhnya, yang mereka siapkan lebih dari itu, fisik dan mental untuk menghadapi medan berat dan ketidakpastian.

Memasuki kawasan hutan tersisa menuju Sialang Muluk, jalur yang tertutup rapat oleh resam menjadi kabar baik. Tidak ada tanda-tanda aktivitas manusia. “Artinya, hanya petugas yang masih menjaga ritme hutan ini,” begitu kira-kira pesan yang terbaca dari rimbunnya semak. Di sana, dua pohon sialang berdiri kokoh, menunggu lebah kembali bersarang. Sementara di kejauhan, suara burung rangkong menggema, bersahut dengan tanda-tanda lain: kotoran gajah dan duri landak, jejak kehidupan liar yang masih bertahan.

Perjalanan berlanjut ke kawasan Lancang Kuning, Resor Air Sawan. Di sinilah cerita lain terkuak. Jejak kijang, rusa, hingga tapir remaja ditemukan berlapis-lapis di tanah lembab. Bahkan, jejak kecil anak kijang menjadi bukti bahwa kehidupan terus berlanjut di tengah tekanan. Hutan ini belum menyerah.

Di tepian Sungai Air Sawan, ancaman lain muncul, rakit penyeberangan yang diduga menjadi akses perambah. Jalur ini, yang membelah habitat satwa, berpotensi menjadi pintu masuk aktivitas ilegal. Tim sampaikan rakit ini akan jadi pertahatian utama tim untuk dimusnahkan.

Hari-hari berikutnya diisi dengan patroli lanjutan hingga ke Gambangan dan Bagan Limau, serta koordinasi dengan pos lapangan. Hingga akhirnya, hujan deras pada hari terakhir memaksa tim berhenti sejenak.

Di balik semua itu, ada satu hal yang tak tertulis dalam laporan: keteguhan. Para petugas tidak hanya berjalan menyusuri hutan, tetapi juga menjaga batas terakhir antara alam dan kerusakan.

Patroli ini menegaskan satu hal, bahwa menjaga hutan tidak cukup sekali jalan. Ia membutuhkan kehadiran yang terus-menerus, kolaborasi untuk menertibkan perambahan, dan komitmen melindungi jalur lintasan satwa dari ancaman perburuan.

Di Tesso Nilo, perjuangan itu masih berlangsung. Dan selama langkah-langkah itu terus ada, harapan pun belum padam.