
TNTN, September 2025 – Langkah kaki tim patroli gabungan SPTN Wilayah I LKB tak pernah ringan. Selama lima hari berturut-turut, 17–21 September 2025, mereka harus berhadapan dengan jalur hutan yang tertutup resam, patahan ranting, hingga temuan pondok-pondok perambah di jantung kawasan konservasi Tesso Nilo.
Patroli dimulai dengan persiapan rapi dan briefing oleh pimpinan lapangan. Jalur dari Grid G21 hingga I21 yang penuh semak terpaksa dibuka kembali agar tim bisa melanjutkan perjalanan. Perjuangan itu berbuah temuan penting: bekas cakaran beruang madu yang menjadi bukti masih adanya satwa liar yang bertahan di hutan ini.
Hari-hari berikutnya, tantangan semakin nyata. Tim menemukan pondok seorang pendatang yang mengaku telah tinggal di kawasan konservasi selama tiga bulan, serta pondok lain yang ditinggalkan dengan jejak jelas aktivitas ilegal, chainsaw dan senapan angin tersimpan di dalamnya. Peralatan itu langsung diamankan, sebab jelas mengancam kelestarian kawasan.

Namun, di balik kerasnya patroli, ada pula momen ringan. Tim menyempatkan diri merawat taman bunga di kantor SPTN, seolah mengingatkan bahwa menjaga hutan bukan hanya menegakkan aturan, tetapi juga merawat keindahan.
Puncaknya, Minggu (21/9), tim turut menyambut Danrem 031/WB beserta rombongan di Pos 2 Satgas PKH—sebuah pengakuan bahwa perjuangan di lapangan mendapat dukungan penuh dari unsur komando.
Meski jalur berat, cuaca tak selalu bersahabat, dan ancaman perambahan terus menghantui, semangat tim tidak padam. Dengan keterbatasan sarana, mereka tetap berdiri di garda depan, memastikan hutan Tesso Nilo tetap hidup—bagi satwa, bagi alam, dan bagi generasi mendatang.