Taman Nasional Tesso Nilo

Langkah Sunyi di Garis Depan Tesso Nilo: Menjaga Hutan, Menjinakkan Konflik

TNTN, Juni  — Matahari belum sepenuhnya meninggi di atas langit SPTN Wilayah II Gunung Melintang ketika Widi Ihsan dan timnya mengencangkan tali sepatu, bersiap menghadapi bentang alam yang tak hanya menuntut ketahanan fisik, tetapi juga keteguhan prinsip. Di balik rimbunnya dedaunan Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN), ada bara api nyata yang sewaktu-waktu bisa melahap isi hutan, dan ada bara kegelisahan sosial masyarakat yang harus mereka padamkan dengan kepala dingin.

Selama lima hari penuh, terhitung sejak 21 hingga 25 Mei 2026, Widi Ihsan, S.H., bersama Fauzan I. Wantriono, S.Hut., Anton Yus Jenry Simamora, dan M. Ilham Gobel, bergerak menyusuri kawasan rawan. Bermodalkan peta kerja, aplikasi Smart Patrol, dan satu unit kendaraan roda empat, mereka mengemban misi suci: mencegah hutan ini musnah dilalap api. Namun, realitas di lapangan membuktikan bahwa menjaga hutan bukan sekadar perkara memadamkan api fisik, melainkan menjembatani ketidakpastian yang dirasakan oleh manusia di sekitarnya.

Ketegasan para petugas diuji secara nyata pada hari Minggu yang terik (24/5). Perwakilan masyarakat Dusun Kuala Renangan datang menghampiri tim patroli. Maksud kedatangan mereka jelas: meminta izin resmi untuk memasukkan alat berat demi memperbaiki akses jalan di dalam dusun. Di satu sisi, ada kebutuhan infrastruktur warga yang mendesak. Namun di sisi lain, hukum lingkungan berdiri tegak tanpa celah kompromi di dalam kawasan konservasi. Tanpa ragu namun tetap humanis, para petugas mengambil sikap tegas, izin tersebut ditolak demi menjaga keutuhan ekosistem taman nasional.

Menjaga hutan berarti berani berkata tidak ketika aturan dilanggar, meskipun penolakan itu harus disampaikan langsung di depan wajah-wajah warga yang mereka temui sehari-hari.

Namun, perjuangan sesungguhnya dari para benteng hijau ini adalah saat berhadapan dengan keresahan sosial. Di Resort Tesso, ketegangan merayap pelan saat rencana pembangunan Pos 12 digulirkan. Sebanyak 50 warga, bersama jajaran RT, RW, dan tokoh masyarakat duduk melingkar bersama tim patroli dan Satgas Pencegahan Kebakaran Hutan pada Senin (25/5). Diskusi berlangsung alot. Warga dengan jujur menyatakan belum bersedia menerima pembangunan pos tersebut.

Alasan penolakan itu berakar pada ketakutan akan ketidakpastian. Isu relokasi` yang dianggap masih “abu-abu”, ketakutan akan keberadaan portal yang dapat membatasi ruang gerak mata pencaharian, hingga kabar burung mengenai pembatasan siswa baru di sekolah dasar setempat, menjadi kabut tebal yang menyelimuti pikiran masyarakat. Warga menuntut keterbukaan hitam di atas putih dari pihak berwenang terkait nasib masa depan mereka di dalam kawasan.

Di sinilah peran petugas patroli dipertaruhkan. Mereka bukan lagi sekadar aparatur yang memegang komando kaku, melainkan diplomat lingkungan. Di tengah penolakan pembangunan pos, tim patroli dengan sabar meluruskan disinformasi, mengklarifikasi isu miring, dan menampung setiap jengkel serta harap warga untuk dibawa kembali ke meja pembuat kebijakan. Mereka menjadi jembatan di atas jurang ketidakpastian.

Patroli lima hari itu mungkin telah usai, namun bagi Widi dan rekan-rekannya, perjuangan belum benar-benar selesai. Hutan Gunung Melintang untuk sementara aman dari kepulan asap kebakaran, namun tugas besar merajut kembali kepercayaan masyarakat di dalam kawasan TNTN baru saja dimulai. Mereka pulang bukan hanya membawa laporan kegiatan, melainkan membawa detak jantung dan harapan warga yang rindu akan kepastian.