Taman Nasional Tesso Nilo

Menantang Semak Resam: Cerita Petugas Patroli Berburu Rekaman Rimba Tesso Nilo

TNTN, Oktober 2026 — Suara mesin motor mati satu per satu di tengah rimbunnya hutan Lubuk Kembang Bunga, SPTN Wilayah I LKB, Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN). Di depan mata, jalur yang biasa dilalui sudah tertutup rapat oleh tanaman resam dan batang pohon tumbang. Tidak ada jalan lain, kendaraan harus ditinggal.

“Gak bisa dipaksa pakai motor kalau jalurnya sudah ketutup resam begini. Pilihannya cuma jalan kaki sambil tebas-tebas semak pakai parang,” cerita Edwar Firdaus, terang ketua tim.

Selama lima hari, dari Selasa (13/10) sampai Sabtu (17/10), Edwar bersama Revi, Andika, Suci, Mizi, tim pemadam kebakaran, dan beberapa mahasiswa magang dari Universitas Riau harus masuk-keluar hutan. Misi utama mereka sederhana tapi butuh fisik ekstra: patroli rutin sekaligus mengambil memori dari kamera jebak yang terpasang di dalam hutan.

Menembus hutan Tesso Nilo jelas bukan perkara mudah. Beberapa titik grid seperti H22 dan G20 sudah tidak bisa diakses kendaraan karena tertutup vegetasi padat. Perjalanan yang tadinya cepat pakai motor berubah jadi jalan kaki yang menguras tenaga.

Namun, rasa lelah itu terbayar saat mereka menemukan tanda-tanda kehadiran penghuni asli hutan ini. Di beberapa titik dekat kamera jebak, tim menemukan bekas kaisan kijang di tanah basah.

Momen paling berkesan terjadi hari Jumat (16/10) saat menuju arah Pos Lancang Kuning. Sepanjang jalan, tim mendapati kotoran gajah liar yang masih baru. Dari ukurannya, terlihat ada kotoran gajah dewasa dan gajah kecil.

“Pas sampai lokasi, kameranya malah sudah lepas dan jatuh ke tanah. Kemungkinan besar tersenggol atau diusilin gajah yang lewat,” kata Edwar sambil tertawa kecil.

Bagi mereka, mengeringkan keringat dan menebas semak belukar di Tesso Nilo sudah jadi makanan sehari-hari. Bukan cuma soal mengganti memori kamera, tapi memastikan ‘rumah’ bagi rombongan gajah dan satwa lain di sana tetap ada yang menjaga.