CATATAN POLISI KEHUTANAN
Oleh: Chyndy Yulya Chandra dan Raju Adi Chandra
Patroli kawasan bukan sekadar kegiatan pengamanan hutan. Bagi kami petugas yang menjalaninya, patroli adalah kesempatan untuk melihat langsung denyut kehidupan alam, membaca tanda-tanda yang ditinggalkan oleh satwa liar, sekaligus menyaksikan bagaimana kondisi hutan terus berubah dari waktu ke waktu baik disebabkan oleh alam maupun manusia.
Patroli kali ini, tim menyusuri jalur yang sudah lama tidak dilalui. Akses menuju lokasi cukup berat karena sebagian besar jalur telah tertutup rapat oleh resam berduri yang tumbuh tinggi. Seringkali jika menemui akses yang seperti ini kami bergurau: ”Babi saja tidak mau lewat”.

Tentu saja ini hanya gurauan agar ada tawa dikala lelah. Sebab pada kenyataannya, sebagai petugas kami tetap harus melewati jalur tersebut. Bagaimanapun kondisi medan yang dihadapi, kawasan harus tetap dipantau dan diperiksa. Justru lokasi-lokasi yang sulit dijangkau seperti inilah yang sering menyimpan informasi penting tentang kondisi hutan dan keberadaan satwa liar. Kemudian dengan melihat kondisi dengan akses yang sulit ini menunjukkan bahwa aktivitas manusia di kawasan ini relatif rendah, yang dapat menjadi indikasi bahwa areal tersebut masih cukup aman dari gangguan manusia.
Di salah satu titik patroli, kami menemukan sebuah plang lama yang kondisinya sudah usang dan seharusnya diganti. Lokasinya berada di tepi Sungai Nilo. Dahulu, menurut informasi yang kami peroleh, terdapat sebuah shelter yang digunakan petugas sebagai tempat beristirahat ketika melakukan patroli. Kini bangunan itu sudah tidak ada lagi. Yang tersisa hanyalah beberapa puing seng atap berkarat yang perlahan menyatu dengan alam

Tepat di depan bekas shelter mengalir Sungai Nilo. Pemandangan di lokasi ini begitu memukau. Ditengah melaksanakan patroli yang melelahkan, rasa kagum muncul ketika berhadapan dengan tempat yang masih jarang diketahui banyak orang. Sungai yang mengalir tenang, suasana yang sunyi, serta bentang alam yang terbuka menghadirkan pengalaman yang sulit dijelaskan dengan kata-kata. Tempatnya sangat cocok dijadikan tempat untuk camping. Mungkin dilain kesempatan, kami akan camping dilokasi ini.

Sembari beristirahat sejenak disiang yang terik, dari sini kami mendengar suara burung pelatuk, sedang mematuk batang kayu.
Dari jauh terlihat tiga ekor burung elang yang sedang mengudara entah sedang memantau apa atau sedang menunggu mangsa, terdengar juga suara tupai.
Sungai Nilo. Keindahannya menyimpan kenyataan yang memprihatinkan. Saat mengamati kondisi sungai, terlihat adanya pendangkalan dan sedimentasi yang cukup tinggi. Erosi pada tepian sungai tampak jelas. Kondisi ini kemungkinan dipengaruhi oleh berkurangnya vegetasi penutup di sekitar aliran sungai. Padahal, akar-akar pohon memiliki peran penting dalam menjaga struktur tanah agar tidak mudah tergerus air. Melihat kondisi tersebut, muncul pertanyaan dalam benak kami: betapa indahnya jika hutan yang mengelilingi sungai ini kembali terjaga. Betapa rindangnya tepian sungai apabila pohon-pohon tumbuh rapat seperti dahulu. Betapa sejuknya suasana jika ekosistem ini pulih sepenuhnya.

Meski demikian, harapan itu masih ada. Kami percaya bahwa alam memiliki kemampuan untuk memulihkan dirinya ketika diberi kesempatan. Kami membayangkan suatu hari nanti pohon-pohon besar kembali berdiri kokoh di sepanjang tepian Sungai Nilo. Satwa liar akan semakin banyak memanfaatkan kawasan ini sebagai habitatnya. Burung-burung akan kembali memenuhi kanopi hutan dan aliran sungai akan menjadi lebih sehat.
Sebagai petugas yang bekerja di lapangan, kami menyadari bahwa upaya perlindungan yang dilakukan mungkin terlihat kecil dibandingkan besarnya tantangan yang dihadapi. Namun kami percaya setiap langkah patroli, setiap pohon yang berhasil dipertahankan, dan setiap ancaman yang berhasil dicegah merupakan bagian dari ikhtiar kami dalam menjaga kehidupan.
Pada perjalanannya selama kami melakukan patroli, banyak temuan-temuan di lapangan yang kami temukan. Salah satunya seperti yang kami temukan yaitu beberapa buah muda yang telah gugur di lantai hutan. Bentuknya kecil, lonjong, berwarna hijau kekuningan dengan permukaan berduri halus menyerupai miniatur buah nangka. Berdasarkan ciri morfologinya, buah tersebut diduga berasal dari kelompok Artocarpus, kemungkinan nangka hutan atau kerabat dekatnya seperti terap (Artocarpus integer).

Temuan lain yang cukup menarik adalah adanya kotoran beruang yang diperkirakan masih baru. Kondisinya masih basah sehingga menunjukkan bahwa satwa tersebut kemungkinan belum lama melintasi kawasan ini.

Menjelang akhir patroli, kami kembali menyusuri jalur yang sama untuk keluar dari kawasan. Langkah terasa lebih ringan meskipun tubuh mulai lelah. Setiap temuan yang kami jumpai selama perjalanan, mulai dari bekas shelter lama di tepian Sungai Nilo, buah-buah hutan yang gugur, hingga tanda keberadaan beruang, menjadi pengingat bahwa hutan ini khusunya hutan Tesso Nilo masih menyimpan kehidupan yang luar biasa.
Patroli bukan hanya tentang mencari pelanggaran atau memastikan kawasan tetap aman. Patroli adalah tentang hadir dan menyaksikan langsung bagaimana alam bekerja, bagaimana satwa bertahan hidup, dan bagaimana hutan terus berjuang memulihkan dirinya dari berbagai tekanan yang dihadapi.
Kami belajar bahwa menjaga hutan bukanlah pekerjaan yang mudah. Namun setiap langkah yang ditempuh, setiap kilometer yang dilalui, dan setiap upaya perlindungan yang dilakukan adalah bentuk tanggung jawab kita kepada alam dan generasi yang akan datang.
Mungkin apa yang kami lakukan hari ini hanyalah bagian kecil dari upaya besar menjaga kelestarian hutan. Namun kami percaya, hutan yang lestari tidak lahir dari satu tindakan besar, melainkan dari banyaknya langkah kecil yang dilakukan secara konsisten. Selama masih ada orang yang peduli, selama masih ada yang mau berjalan menembus resam dan duri untuk menjaganya, harapan bagi Tesso Nilo akan selalu ada.