Taman Nasional Tesso Nilo

Menembus Sungai Banjir, Membongkar Pondok Ilegal: Perjuangan Tim Pemulihan Ekosistem di Tesso Nilo

TNTN, September — Hujan deras mengguyur hutan Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN) pada Minggu, 21 September 2025. Sungai Air Hitam meluap, deras dan tak bisa diseberangi. Namun langkah petugas tak berhenti. Dengan drone yang diterbangkan dari tepian sungai, mereka memetakan kondisi lapangan: hamparan sawit muda, pondok-pondok roboh, dan semak belukar yang terus merayap menutup bekas hutan.

Selama lima hari, 21–25 September 2025, tim gabungan yang terdiri dari personel Balai TNTN, GakkumHut, hingga Satgas TNI, berjibaku menempuh rimba dan lahan terbuka untuk mengumpulkan data lapangan rencana pemulihan ekosistem (PE) seluas 511 hektare di SPTN Wilayah I Lubuk Kembang Bunga.

Perjalanan tak mudah, tim harus menyaksikan ironi: sebagian bekas hutan telah berubah jadi kebun sawit berusia satu tahun, sebagian lainnya hanyalah semak belukar. Aksi pemusnahan sawit yang dilakukan petugas pun memantik reaksi warga sekitar, bahkan hingga mendatangi pos satgas.

Meski demikian, keberanian tim tak surut. Mereka terus bergerak menyisir petak demi petak. Di tengah hutan, ditemukan lahan terbuka milik perambah, lengkap dengan pondok-pondoknya. Nama-nama pemiliknya pun dicatat, sebagai bukti penindakan yang telah berulang kali diperingatkan.

Tak hanya mencatat kondisi ekosistem, tim juga melakukan sosialisasi dan memberi peringatan langsung kepada warga yang masih bertahan di pondok-pondok ilegal. Drone digunakan maksimal untuk merekam gambaran dari udara.

Dari hasil pengamatan, sebagian besar telah dikuasai sawit muda dengan keberadaan pondok perambah, sementara bagian lainnya masih menyimpan sisa hutan dan area tumbangan yang mulai tersuksesi alami. Petugas sampaikan akan giatkan kombinasi pemulihan, patroli, dan pengamanan intensif agar kawasan tak kembali terbuka bagi perambahan.

Perjuangan di lapangan ini kembali menegaskan satu hal: menjaga hutan bukan sekadar soal menanam pohon, tapi juga tentang keberanian menghadapi arus deras, semak yang menutup jalan, dan konflik kepentingan yang nyata.