Taman Nasional Tesso Nilo

Menjaga Benteng Terakhir Gunung Melintang

TNTN, Agustus 2026  — Matahari akhir Agustus menyengat tanpa ampun di kawasan Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah II Gunung Melintang. Tanah merekah, dan debit Sungai Nilo terus menyusut hingga menampakkan dasar sungainya yang dangkal. Musim kemarau panjang tahun ini tidak hanya tentang cuaca yang terik, melainkan sinyal bahaya bagi Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN), benteng hijau tersisa yang tak pernah berhenti dirundung ancaman.

Di tengah kepungan hawa panas dan ancaman perusakan hutan, tujuh personel Tim Smart Patrol, Syarifudin, Muhammad Abdi, Mokhamad Saiful Anwar, Wuddan Misbahuddin, Syusra Abadi, Reri Marantika, dan Bayu Setiawan kembali melangkah masuk ke dalam rimba. Selama enam hari lima malam, sejak Minggu (23/8) hingga Jumat (28/8), mereka hidup berpindah dari satu titik koordinat ke koordinat lain, berpacu dengan waktu dan potensi bahaya.

Awal pekan baru saja dimulai ketika kabar mengejutkan tiba melalui transmisi radio. Informasi kebakaran menyeruak di pemukiman Nilo dan Tembago. Tanpa ragu, tim memacu kendaraan melewati berbagai titik. Di bawah bayang-bayang pohon meranti raksasa yang masih berdiri megah di hulu sungai, mereka menyapa warga setempat, mengetuk kesadaran agar tak ada satu pun pemantik api yang dinyalakan di tanah yang sedang merana ini.

“Meranti tua di hulu sungai masih berdiri kokoh, jejak kubangan babi hutan pun terpatri segar di atas tanah kering. Kehidupan belantara ini masih ada, dan tugas kami adalah memastikan mereka tidak musnah terbakar atau terabaikan.”

Namun tantangan patroli tak sekadar melawan cuaca ekstrem. Tensi emosional di lapangan kerap kali menguji keberanian dan kearifan tim. Saat mengintip opsi lokasi kemah di dekat Sungai Nilo dan Sungai Dolik pada Rabu (26/8), tim mendapati situasi memanas. massa asing mulai menyemut, memicu potensi konflik jika pengukuran lahan tetap dipaksakan.

Tak ada kepanikan. Dengan kepala dingin, tim memilih memutar arah. Mengalihkan roda empat ke sepeda motor, menembus jalur alternatif yang terjal demi menghindari gesekan fisik yang tak perlu. Bagi mereka, keberanian dalam menjaga hutan tak selalu diukur dari konfrontasi, melainkan ketepatan taktik dan keselamatan jiwa.

Ketegasan tetap menjadi benteng terakhir. Di lokasi rencana Pemulihan Ekosistem, tim bergerak cepat merambas dan memusnahkan sekitar dua hektar tanaman sawit ilegal. Kehadiran tanaman komersial di kawasan konservasi adalah luka mendalam bagi ekosistem, dan penumbangan tersebut merupakan ketukan palu tegas bahwa hukum negara masih membentang di bawah rimbunnya TNTN.

Hingga hari terakhir patroli, Jumat (28/8), peluh belum menyusut. Tangan-tangan kekar para petugas bergerak menancapkan plang-plang larangan baru dan meracik racun pemusnah kayu liar di perbatasan grid K18. Mereka mengukur kembali kedalaman air sungai yang kian menipis, memastikan ketersediaan pasokan air jika sewaktu-waktu si jago merah mengamuk.

Patroli kali ini mungkin telah usai, namun perjuangan mempertahankan kawasan TNTN tak pernah berhenti. Tujuh ksatria rimba ini telah kembali ke posko dengan racikan saran prakondisi dan peta rawan yang makin teruji. Di atas tanah kering Gunung Melintang, jejak langkah mereka menjadi bukti: selama patroli terus berjalan, nafas hijau Tesso Nilo akan tetap terjaga.