
TNTN, Agustus 2026 — Mentari baru saja meninggi ketika debu jalanan tanah di Dusun Kenayang Makmur, Desa Lubuk Kembang Bungo, mengepul tersapu roda kendaraan patroli. Jarum jam menunjukkan pukul 09.28 WIB, namun hawa panas dan kelembapan khas hutan tropis telah menyengat kulit. Di batas kawasan Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN) ini, tugas berat kembali menanti gabungan prajurit TNI, Polisi Hutan (Polhut), dan Tim Intelijen Satgas.
Pagi itu, di bawah komando Dantim Intel Satgas Lettu Inf Mursyid, sebanyak 18 personel yang terdiri dari 7 prajurit TNI AD, 7 Polhut, 3 anggota tim intel, serta didampingi B. Sihotang seorang Ketua RW setempat bergerak menembus barisan vegetasi. Misi mereka satu: menyisir kawasan hutan lindung yang terindikasi kembali mengalami aktivitas pembersihan lahan (imas) secara ilegal.
Setibanya di lokasi pada pukul 10.30 WIB, bau remasan daun dan tanah gembur yang baru dibuka menyambut tim. Di sana, mereka mendapati Rinaldi (25), seorang pemuda yang tengah memegang alat tebas. Keringat membasahi bajunya. Saat diinterogasi dengan nada humanis, Rinaldi mengaku hanya menjalankan perintah sang mertua, Sutardi (50), untuk membersihkan lahan sawit seluas dua hektar yang baru berumur di bawah lima tahun.
“Kami berikan peringatan tegas namun tetap beretika. Tidak boleh ada lagi penyerobotan atau penggarapan lahan berumur di bawah 5 tahun di kawasan TNTN sebelum ada keputusan resmi pemerintah. Jika dilanggar, hukum yang akan berbicara,” tegas Lettu Inf Mursyid di hadapan warga.
Tantangan menjaga TNTN tak sekadar berhadapan dengan perambah, tetapi juga kerumitan sosial. Anggapan salah bahwa kawasan tersebut “aman digarap” menjadi pemicu berulang yang harus diredam para petugas setiap hari melalui dialog mendalam.
Dukungan justru mengalir dari tokoh masyarakat lokal. B. Sihotang, Ketua RW Dusun Kenayang, menegaskan bahwa warganya secara penuh mendukung langkah pemerintah dan siap direlokasi demi memulihkan ekosistem hutan.
“Warga kami di Kenayang sudah menyerahkan lahan ke pemerintah dan siap dipindahkan. Kami justru berharap prosesnya dipercepat agar warga punya kepastian mata pencaharian. Adapun penggarap yang ditemukan hari ini merupakan warga dari luar wilayah kami,” ujar Sihotang.
Tepat pukul 11.20 WIB, patroli pencegahan tersebut berakhir dalam suasana kondusif. Kendati misi hari itu selesai tanpa riak, perjuangan para petugas penjaga rimba ini jauh dari kata usai. Monitoring bernuansa edukatif terus digencarkan untuk mengawal program Pemulihan Ekosistem TNTN oleh Satgas Garuda PKH, sembari membendung provokasi dan memastikan benteng hijau terakhir Pelalawan ini tetap berdiri tegak.