Taman Nasional Tesso Nilo

Menjaga Sebelum Terbakar: Kisah Patroli di Jantung Tesso Nilo

TNTN, April 2026 – Hujan memang turun hampir setiap hari di bentang alam Taman Nasional Tesso Nilo. Tapi bagi tim patroli pencegahan kebakaran di SPTN Wilayah II Gunung Melintang, akhir Maret bukan alasan untuk lengah. Di balik tanah yang basah, selalu ada potensi bara yang diam-diam menunggu.

Selama tiga hari, 28–30 Maret 2026, satu personel Polisi Kehutanan bersama tiga orang Pengendali Ekosistem Hutan menyusuri jalur-jalur sunyi di Resort Nilo. Mengendarai dua sepeda motor, mereka bergerak dari Dusun Kuala Dolik, menembus grid demi grid menuju lokasi penanaman pemulihan ekosistem seluas 10 hektare yang dibangun pada 2023.

Patroli ini bukan sekadar perjalanan rutin. Sebelum turun ke lapangan, tim terlebih dahulu menyerap informasi dari patroli sebelumnya, membaca peta kerawanan, menandai titik-titik yang berpotensi terbakar. Strategi itu menjadi bekal penting di tengah kondisi lanskap yang terus berubah.

Di sepanjang jalur, tak ditemukan aktivitas ilegal maupun tanda-tanda kebakaran. Namun kewaspadaan tak diturunkan. Tim tetap menyapa warga yang dijumpai, menyampaikan pesan sederhana namun krusial: tidak membuka lahan dengan cara membakar, tidak menyalakan api sembarangan, dan menjaga hutan sebagai ruang hidup bersama.

Perjalanan menuju lokasi penanaman ekosistem (PE) tidak mudah. Jalan setapak yang dulu sering dilalui kini dipenuhi semak belukar rapat, sebuah tanda bahwa aktivitas manusia mulai berkurang. Di tengah rimbun itu, tumbuh pohon-pohon muda: ketapang, sengon, sirsak, mahoni, dan pulai. Mereka menjulang, perlahan merebut kembali ruang yang sempat terdegradasi.

Namun ancaman tak selalu kasatmata. Dalam perjalanan pulang, saat melintasi Grid J-18 menuju Sungai Tembago, tim menemukan area semak belukar yang telah disemprot dan mengering, diperkirakan seluas dua hektare. Temuan ini menjadi catatan penting, indikasi awal yang bisa berkembang menjadi risiko kebakaran jika tak segera diantisipasi.

Cuaca yang didominasi hujan ringan hingga lebat selama tiga hari terakhir memang memberi jeda alami dari potensi api. Tapi bagi para petugas di lapangan, kewaspadaan tidak mengenal musim. Mereka tahu, menjaga hutan bukan hanya soal memadamkan api yang terlihat, melainkan juga mencegah yang belum sempat menyala.

Di jalur-jalur sunyi itu, perjuangan mereka mungkin tak terdengar. Namun setiap kilometer yang ditempuh adalah upaya menjaga agar hutan tetap hidup, dan api, tetap menjadi sesuatu yang tak pernah terjadi.