Taman Nasional Tesso Nilo

Menyusuri Rimba Tesso Nilo, Menjaga Hutan dari Api dan Gergaji

TNTN, September 2025 – Di balik rimbun semak belukar dan resam setinggi dada, tim patroli SPTN Wilayah II Gunung Melintang melangkah tanpa ragu. Selama tiga hari, 12–14 September 2025, mereka menempuh perjalanan panjang untuk satu tujuan: menjaga Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN) dari ancaman kebakaran dan pembalakan liar.

Awalnya, patroli difokuskan pada pencegahan kebakaran hutan. Namun, di grid J19, tim menemukan jerat burung punai dan bibit sawit yang disembunyikan di bekas pondok perambah. Semua dimusnahkan di tempat. “Ini bukan hanya soal api, tapi juga tentang perambahan yang terus menggerogoti hutan,” ujar salah Polhut Syarifudin.

Perjalanan makin menegangkan ketika suara motor terdengar dari kejauhan. Tim bergegas dan mendapati dua pelaku sedang melansir kayu hasil tebangan. Satu berhasil kabur, satu lagi diamankan. Dari pemeriksaan, diketahui kayu jenis kulim itu diambil untuk dijual. Barang bukti berupa balok kayu, chainsaw, hingga motor ikut diamankan.

Tak berhenti di situ, tim menemukan pula tumbangan kayu baru di grid L19. Meski pelaku sudah kabur, tanda-tanda aktivitas ilegal logging masih jelas terlihat. Sebelum kembali ke pos, tim memberi tanda batas kawasan agar siapapun tahu: ini adalah hutan negara yang harus dijaga.

Patroli kali ini menegaskan betapa beratnya perjuangan menjaga TNTN. Jalur sulit, banjir sungai perbekalan, hingga berhadapan langsung dengan pelaku, semuanya menjadi bagian dari risiko di lapangan. Tim sampaikan akan melakukan pemutusan akses perambah dan penambahan tanda batas kawasan sebagai tindak lanjut.

Tesso Nilo bukan sekadar hamparan hijau di peta. Ia adalah rumah satwa liar, benteng ekologi, dan harapan masa depan. Dan selama itu pula, para petugas akan terus berjalan, menyingkap semak, menyeberangi sungai, hingga menghadang gergaji demi menjaga hutan tetap tegak.