Taman Nasional Tesso Nilo

Merekam Kehidupan Tapir, Merawat Harapan Hutan

TNTN, Februari 2026 – Di bawah kanopi hutan yang masih basah oleh embun pagi, langkah-langkah kecil itu dicari dengan penuh kesabaran. Sejak Kamis (19/2/2026), sepuluh personel SPTN Wilayah II Gunung Melintang menembus rimba Taman Nasional Tesso Nilo untuk satu misi: memastikan keberadaan Tapir Asia, satwa pemalu yang menjadi penanda kesehatan hutan.

Monitoring terhadap Tapirus indicus bukan sekadar rutinitas lapangan. Bagi tim yang dipimpin Edwar Firdaus bersama sembilan personel lainnya, kegiatan ini adalah ikhtiar menjaga denyut terakhir hutan dataran rendah Sumatera.

Persiapan dilakukan di kantor SPTN Wilayah II Gunung Melintang. Peta kawasan dibentangkan, titik grid ditandai, GPS dan kamera trap diperiksa satu per satu. Dari sana, tim bergerak menuju grid I20 menggunakan sepeda motor, menyusuri jalur tanah yang licin dan berdebu, sebelum akhirnya mendirikan camp di tepian sungai sebagai pusat perbekalan.

Selama lima hari, sebanyak 15 kamera trap dipasang dan disebar di sejumlah grid strategis. Personel dibagi menjadi tiga tim kecil agar pemasangan efektif dan menjangkau titik-titik potensial lintasan satwa. Kamera dipasang di antaranya pada grid-grid strategis Setiap koordinat dicatat presisi—karena dari titik-titik sunyi itulah harapan akan kemunculan tapir disandarkan.

Tak hanya memasang perangkat, tim juga membaca “bahasa hutan”. Pada koordinat -0.305102, 101.910902, mereka menemukan jejak tapir yang masih cukup jelas—tapak lebar yang menekan tanah lembap. Tak jauh dari sana, di titik -0.304966, 101.910937, jejak beruang juga teridentifikasi. Penemuan bulu kuau raja mempertegas bahwa kawasan ini masih menjadi rumah bagi beragam satwa liar.

Menariknya, beberapa areal bukaan yang sebelumnya terdegradasi kini menunjukkan tanda-tanda suksesi alami. Semak dan anakan pohon mulai tumbuh, memberi sinyal bahwa hutan sedang berusaha memulihkan dirinya sendiri.

Namun perjuangan belum usai. Sejumlah kamera terpantau tidak lagi berfungsi optimal. Keterbatasan memori card juga menjadi kendala teknis di lapangan. Tim merekomendasikan pembaruan unit kamera serta penambahan kartu memori agar pemantauan berikutnya lebih maksimal.

Di tengah tantangan medan dan keterbatasan sarana, monitoring ini menjadi bukti bahwa konservasi bukan hanya soal data, melainkan tentang ketekunan menjaga kemungkinan. Di rimba Gunung Melintang, setiap jejak tapir adalah kabar baik—bahwa hutan masih menyimpan kehidupan, dan masih ada yang setia menjaganya.