Taman Nasional Tesso Nilo

Racikan Senyap untuk Sang Raksasa: Cerita dari Balik Meja Lab Perawat Gajah Sumatra

TNTN, Mei 2026 — Angka di timbangan digital harus presisi. Sedikit saja meleset, konsentrasi cairan bisa berubah. Di dalam ruang kerja yang tak seberapa luas, Teguh, Nizar, Safira, Kus, dan Windi berbagi tugas. Hari itu, Senin (11/5), mereka tidak sedang berhadapan langsung dengan kulit tebal gajah-gajah binaan Balai Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN). Hari ini, perjuangan mereka beralih ke atas meja laboratorium.

Tim SPTN Wilayah I LKB ini tengah berjibaku dengan tabung erlenmeyer, beaker glass, dan batang pengaduk. Misi mereka satu: meracik larutan garam jenuh homogen.

Bagi orang awam, mencampur NaCl (garam murni) dengan aquades mungkin terdengar sederhana. Namun di tangan para perawat gajah ini, proses tersebut adalah bagian vital dari garis pertahanan kesehatan satwa raksasa yang dilindungi itu. Cairan jenuh ini nantinya akan menjadi bahan pendukung utama untuk pemeriksaan laboratorium berkala. Tanpa persiapan bahan yang matang, deteksi dini penyakit pada gajah binaan bisa terhambat.

“Penjagaan kesehatan gajah itu tidak cuma di lapangan saat menghalau konflik, tapi juga ketelitian di laboratorium seperti ini,” ujar salah satu personel tim.

Suhu ruangan perlahan meningkat saat proses pemanasan dimulai. Asap tipis mengepul, diaduk perlahan menggunakan batang pengaduk hingga seluruh kristal garam larut sempurna dan menyatu dengan aquades. Butuh kesabaran ekstra untuk memastikan larutan benar-benar homogen, sebuah proses senyap yang jarang tersorot kamera, namun menentukan keberlangsungan hidup gajah-gajah binaan.

Di balik tubuh tambun gajah-gajah Sumatra yang sehat, ada peluh dan ketelitian dari Tim SPTN I yang konsisten merawat mereka dari hal-hal terkecil.