
TNTN, Maret 2026 – Kabut pagi belum sepenuhnya terangkat ketika tim patroli dari SPTN Wilayah II Gunung Melintang bersiap meninggalkan kantor mereka di kawasan Taman Nasional Tesso Nilo. Dengan peta kawasan di tangan, GPS di saku, serta kendaraan roda dua dan roda empat yang siap menembus jalan tanah, perjalanan patroli darat itu dimulai. Selama lima hari, 5–10 Maret 2026, mereka menelusuri grid demi grid hutan yang menjadi rumah bagi berbagai satwa liar Sumatra.
Perjalanan tidak selalu mudah. Di awal patroli, tim harus mengantarkan genset ke Pos 2 Kenayang sebelum melanjutkan pengecekan sebuah fasilitas lama yang dikenal sebagai RAM China, yang direncanakan menjadi Pos 10 sementara. Namun kunci gerbang yang hilang membuat mereka sempat tertahan. Tanpa menyerah, patroli tetap dilanjutkan ke areal yang dikenal sebagai wilayah SR di perbatasan grid H17–H18. Di sana, tim sempat menyadari keberadaan drone yang memantau dari kejauhan. Meski demikian, patroli tetap berjalan, memastikan kawasan tetap aman.
Di area yang sebelumnya pernah ditebang dan kemudian diserahkan kepada tim satgas untuk penanganan, tanda-tanda pemulihan mulai terlihat. Vegetasi muda tumbuh kembali, memberi harapan bahwa rimba yang sempat terluka perlahan bangkit.
Hari berikutnya, tim kembali ke RAM China dan berhasil membuka gerbang yang sebelumnya terkunci. Di lokasi tersebut, mereka menemukan dua bangunan terpisah: sebuah mess manajer lengkap dengan kamar tidur, ruang tamu, dapur, dan kamar mandi, serta mess pekerja dengan dua kamar. Namun sebagian pintu masih terkunci atau kehilangan kunci sehingga perlu diganti. Fasilitas lain seperti pos jaga, ruang genset, kamar mandi luar, instalasi listrik, hingga sumur dengan pompa celup dan tangki air berkapasitas 1.000 liter masih dalam kondisi cukup baik. Di halaman, sebuah gazebo berdiri sunyi di antara rerumputan yang mulai meninggi.
Dalam perjalanan itu, tim juga menyempatkan diri bersilaturahmi dengan Ketua RW Dusun Toro Jaya, Sumardi, untuk berkoordinasi mengenai rencana pembangunan pos di kawasan tersebut.
Patroli kemudian berlanjut menuju Camp Rio. Jalan menuju lokasi dipenuhi pohon tumbang, memaksa kendaraan melipir di tepian jalur sempit yang masih bisa dilalui. Setelah tiba, tim menyisir area sekitar camp. Hasilnya cukup melegakan, tidak ditemukan aktivitas ilegal. Di sela patroli, dua ekor burung rangkong besar melintas di atas kanopi hutan, seolah menjadi pengingat bahwa hutan ini masih hidup.
Perjalanan dilanjutkan, kawasan yang sebelumnya pernah menjadi lokasi illegal logging. Kini, aktivitas penebangan liar tidak lagi ditemukan. Di jalan tanah yang lembap, jejak-jejak satwa justru terlihat jelas, tapir dan beberapa babi hutan meninggalkan tapak yang menandakan kehidupan liar masih bergerak bebas di kawasan itu.

Di penghujung patroli, tim kembali mengecek fasilitas RAM China bersama komandan pos setempat untuk memastikan lokasi tersebut layak digunakan sebagai pos penjagaan.
Meski situasi relatif kondusif, para petugas menyadari pekerjaan menjaga hutan tak pernah benar-benar selesai. Mereka tuturkan akan lakukan peningkatan intensitas patroli, pemasangan penanda kawasan di jalur akses, serta perbaikan fasilitas seperti penggantian kunci pintu, penyediaan genset, dan pembersihan area yang mulai tertutup rumput. Ketiadaan jaringan komunikasi di lokasi juga menjadi catatan penting bagi operasional petugas di lapangan.
Perjalanan ini adalah potongan kecil dari kerja panjang para penjaga rimba. Menyusuri jalan berlumpur, menghadapi keterbatasan fasilitas, hingga memastikan setiap sudut hutan tetap aman, itulah rutinitas yang mereka jalani demi menjaga kehidupan liar di jantung Taman Nasional Tesso Nilo tetap bertahan.