
Di antara jejak tapir yang samar, pohon tumbang, dan ancaman nyata pembalakan liar, tim Smart Patrol SPTN Wilayah II Gunung Melintang terus berjalan melintasi garis depan konservasi.
TNTN, Juni 2026 – Deru mesin sepeda motor perlahan meredup, digantikan oleh kesunyian hutan tropis Sumatra yang pekat sekaligus intimidatif. Hari itu, Kamis, 11 Juni 2026, sebuah tim kecil yang menamakan diri mereka Tim Smart Patrol dari SPTN Wilayah II Gunung Melintang kembali menembus jantung Taman Nasional Tesso Nilo . Mereka tahu, enam hari ke depan bukanlah perjalanan dinas biasa, melainkan sebuah misi sunyi mempertahankan sisa-sisa benteng hijau yang terus digerogoti keserakahan manusia.
Target mereka jelas: menyisir koordinat-koordinat kritis hingga ke Grid K21, sebuah wilayah yang kerap menjadi magnet aktivitas ilegal. Perjalanan ini menuntut ketahanan fisik dan mental yang luar biasa. Saat menyusuri rute menuju Sungai Perbekalan, hutan seolah langsung menguji nyali mereka. Akses jalan di seberang sungai mulai tertutup rapat oleh vegetasi liar. Kendaraan roda dua yang menjadi tumpangan utama tak lagi bisa dipaksa bergerak. Mau tidak mau, langkah kaki menjadi tumpuan tunggal.
“Di tengah perjalanan, jalur patroli kerap dihadang oleh deretan pohon tumbang raksasa. Menembus rimbunnya belantara berarti harus siap melompati, merangkak, hingga menebas jalur baru di bawah bayang-bayang kelelahan ekstrem.”
Tesso Nilo tidak sedang baik-baik saja, dan para petugas menyadari itu di setiap jengkal tanah yang mereka injak. Tim menemukan sebatang kayu bulat besar yang diduga kuat ditebang oleh warga setempat untuk dijadikan jembatan di Sungai Tembago. Tak ada manusia di sana saat itu, hanya sisa tebangan yang membisu.
Luka Tesso Nilo makin menganga ketika tim tiba di areal lainnya. Di sana, mereka berdiri di atas tanah yang baru saja dijarah. Sebuah aktivitas pembalakan liar (illegal logging) yang diperkirakan terjadi seminggu lalu menyisakan tunggul-tunggul pohon yang meranggas. Sedikitnya, ada 9 titik pembalakan lain yang posisinya saling berdekatan. Para pelaku bergerak bak hantu, tidak ada mesin chainsaw atau peralatan kerja yang ditinggalkan, menunjukkan betapa rapi dan terorganisasinya jaringan penjarah ini.

Namun, di tengah kecemasan akan kerusakan hutan, Tesso Nilo selalu punya cara untuk mengirimkan secercah harapan. Saat berjalan kaki menuju titik pemasangan camera trap (kamera pengintai) yang dipasang Februari lalu, petugas menemukan torehan kehidupan liar yang masih bertahan. Jejak kaki segar dan bekas kaisan tanah dari satwa langka Tapir terlihat jelas. Tak jauh dari sana, di grid yang berbeda, guratan dalam bekas cakaran Beruang Madu pada sebuah batang pohon menjadi bukti sahih bahwa satwa-satwa eksotis ini masih menggantungkan hidup pada rimba yang tersisa.
Kabar baiknya, kamera-kamera pengintai yang mereka periksa sepanjang jalur patroli berada dalam kondisi baik, merekam denyut nadi hutan tanpa gangguan. Di area bekas kebakaran hutan masa lalu, alam juga menunjukkan daya magisnya melalui proses suksesi alami, tunas-tunas hijau baru mulai tumbuh, berusaha menutup luka lama.

Sayangnya, ancaman tidak hanya datang dari gergaji mesin, tetapi juga dari ekspansi perkebunan monokultur yang agresif. Saat menyisir areal berikutnya, tim berhadapan langsung dengan dua orang warga yang bersiap menanam bibit kelapa sawit di dalam kawasan konservasi. Di sinilah letak ketegasan petugas diuji. Tanpa ragu namun tetap humanis, tim memberikan teguran keras dan pemahaman hukum. Dua warga tersebut diperintahkan menghentikan aktivitasnya dan diminta keluar dari kawasan saat itu juga. Sebuah pondok liar yang dibangun di dalam hutan dan telah ditinggalkan penghuninya langsung dimusnahkan oleh petugas agar tidak disalahgunakan kembali.
Enam hari berjibaku dengan lumpur, ancaman pembalakan, dan lelah yang mendera akhirnya usai pada Selasa, 16 Juni 2026. Tim kembali dengan membawa setumpuk data, sekaligus alarm peringatan yang keras bagi publik dan pemangku kebijakan.
Para petugas Smart Patrol telah menunaikan tugasnya, bertaruh nyawa di bawah kanopi Tesso Nilo. Kini, bola panas perlindungan hutan berada di tangan kita semua: akankah kita membiarkan para penjaga rimba ini berjuang sendirian, atau ikut bergerak menyelamatkan sisa paru-paru dunia yang kian sekarat?